Tindakan Perawat Dalam Mengatur Posisi Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan, teknik Napas dalam, dan Melatih Batuk Efektif”

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Obat anastesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernafasan sehingga perawat perlu waspada terhadap pernafasan yang dangkaldan lambat serta batuk yang lemah. Perawat mengkaji frekuensi, irama, kedalaman ventilasi pernafasan, kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi nafas dan membrane mukosa. Apabila pernafasan dangkal letakan tangan perawat diatas muka/mulut klien sehingga perawat dapat merasakan udara yang keluar. Salah satu kekhawatiran perawat terbesar adalah obstruksi jalan nafas akibat aspirasi munta, akumulasi sekresi mukosa difaring atau bengkaknya spasme laring (odom, 1993).

1.1.     Rumusan Masalah

      Apa saja tindakan perawat dalam mengatur posisi pasien dengan gangguan sistem pernapasan ?

      Bagaimana teknik napas dalam pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan ?

      Bagaimana cara melatih batuk efektif pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan ?

      Apa saja indikasi dan kontra indikasi dari masing – masing teknik tersebut /

1.2.    Tujuan Masalah

      Mahasiswa mengetahui tentang tindakan dalam mengatur posisi pasien dengan gangguan sistem pernapasan.

      Mahasiswa mengetahui tentang teknik napas dalam yang dilakukan oleh klien.

      Mahasiswa mengetahui tentang cara melatih batuk efektif yang dilakukan oleh pasien.

      Mahasiswa mampu mengetahui tentang indikasi dan kontra indikasi yang dilakukan oleh pasien dari masing – masing teknik.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.   Tindakan Perawat Dalam Mengatur Posisi Pasien Dengan Gangguan Sistem pernapasan

      Fisioterapi Dada

Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik, sinar, air, panas, dingin, massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan.

Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret, memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun, penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage, perkusi, dan vibrasi. Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung, status asmatikus, renjatan dan perdarahan masif, sedangkan kontra indikasi relatif seperti infeksi paru berat, patah tulang iga atau luka baru bekas operasi, tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang.

Tujuan: untuk membuang sekresi bronkial, memperbaiki ventilasi, dan meningkatkan efisiensi otot-otot pernapasan.

ü  Indikasi:

–          Terdapat penumpukan sekret pada saluran napas yang dibuktikan dengan pengkajian fisik, X Ray, dan data klinis.

–          Sulit mengeluarkan atau membatukkan sekresi yang terdapat pada saluran pernapasan.

 

 

ü  Kontra indikasi:

–          Hemoptisis

–           Penyakit jantung

–          Serangan Asma Akut

–          Deformitas struktur dinding dada dan tulang belakang.

–          Nyeri meningkat.

–          Kepala pening

–          Kelemahan.

    Postural Drainase

Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi.. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating.

ü  Indikasi untuk Postural Drainase :

  1. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada :

–          Pasien yang memakai ventilasi

–          Pasien yang melakukan tirah baring yang lama

–          Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis

–          Pasien dengan batuk yang tidak efektif .

  1. Mobilisasi sekret yang tertahan :

–          Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh secret

–          Pasien dengan abses paru

–          Pasien dengan pneumonia

–          Pasien pre dan post operatif

–          Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk

 

ü  Kontra indikasi untuk postural drainase :

–          Tension pneumotoraks

–          Hemoptisis

–          Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark miokard akutrd infark dan aritmia.

–          Edema paru

–          Efusi pleura yang luas

ü  Persiapan pasien untuk postural drainase.

–           Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang.

–          Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap.

–          Periksa nadi dan tekanan darah.

–          Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret.

ü  Cara melakukan pengobatan :

–          Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase.

–          Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari, bila dilakukan pada beberapa posisi tidak lebih dari 40 menit, tiap satu posisi 3 – 10 menit.

–          Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan.

ü  Penilaian hasil pengobatan :

–          Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan.

–          Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama.

–          Apakah batuk telah produktif, apakah sekret sangat encer atau kental.

–          Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah, merasa enakan, sakit.

–          Bagaimana efek yang nampak pada vital sign, adakah temperatur dan nadi tekanan darah.

–          Apakah foto toraks ada perbaikan.

ü  Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan :

–          Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam.

–          Suara pernafasan normal atau relative jelas.

–          Foto toraks relative jelas.

–          Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk.

ü  Alat dan bahan :

–          Bantal 2-3

–          Tisu wajah

–          Segelas air hangat

–          Masker

–          Sputum pot

ü  Prosedur kerja :

–          Jelaskan prosedur

–          Kaji area paru, data klinis, foto x-ray

–          Cuci tangan

–          Pakai masker

–          Dekatkan sputum pot

–          Berikan minum air hangat

–          Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage

–          Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating

–          Berikan tisu untuk membersihkan sputum

–          Minta pasien untuk duduk, nafas dalam dan batuk efektif

–          Evaluasi respon pasien (pola nafas, sputum: warna, volume, suara pernafasan)

–          Cuci tangan

–          Dokumentasi (jam, hari, tanggal, respon pasien)

–          Jika sputum masih belum bisa keluar, maka prosedur dapat diulangi kembali dengan

memperhatikan kondisi pasien

 

 

 

 

 

    Clapping / Perkusi

Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk kedua tangan deperti mangkok.

ü  lndikasi untuk perkusi :

Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase, jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan :

–          Patah tulang rusuk

–          Emfisema subkutan daerah leher dan dada

–          Skin graf yang baru

–          Luka bakar, infeksi kulit

–          Emboli paru

–          Pneumotoraks tension yang tidak diobati

ü  Alat dan bahan : Handuk kecil

ü  Prosedur kerja :

–          Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan

–          Anjurkan pasien untuk rileks, napas dalam dengan Purse lips breathing

–          Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok

    Vibrating

Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret.

Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar.

ü  Kontra indikasinya adalah :  patah tulang dan hemoptisis.

ü  Prosedur kerja :

–          Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar

–          Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing

–          Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi

–          Istirahatkan pasien

–          Ulangi vibrasi hingga 3X, minta pasien untuk batuk

 

  1. 2.  Teknik Napas Dalam
  2. a.      PENGERTIAN

Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan, Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer & Bare, 2002).

  1. b.      TUJUAN

Smeltzer & Bare (2002) menyatakan bahwa tujuan teknik relaksasi napas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi stress baik stress fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.

 

  1. c.       PROSEDUR TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM

Menurut Priharjo (2003), bentuk pernapasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernapasan diafragma yang mengacu pada pendataran kubah diagfragma selama inspirasi yang mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi. Adapun langkah-langkah teknik relaksasi napas dalam adalah sebagai berikut :

  • Ciptakan lingkungan yang tenang
  • Usahakan tetap rileks dan tenang
  • Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1,2,3
  • Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas dan bawah rileks
  • Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
  • Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan
  • Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks
  • Usahakan agar tetap konsentrasi / mata sambil terpejam
  • Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri
  • Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang
  • Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali.
  • Bila nyeri menjadi hebat, seseorang dapat bernafas secara dangkal dan cepat.

 

  1. d.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM TERHADAP PENURUNAN NYERI

Teknik relaksasi napas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu :

1)      Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemic.

2)      Teknik relaksasi napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoiod endogen yaitu endorphin dan enkefalin (Smeltzer & Bare, 2002)

3)      Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat

Relaksasi melibatkan sistem otot dan respirasi dan tidak membutuhkan alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu. Prinsip yang mendasari penurunan nyeri oleh teknik relaksasi terletak pada fisiologi sistem syaraf otonom yang merupakan bagian dari sistem syaraf perifer yang mempertahankan homeostatis lingkungan internal individu. Pada saat terjadi pelepasan mediator kimia seperti bradikinin, prostaglandin dan substansi, akan merangsang syaraf simpatis sehingga menyebabkan vasokostriksi yang akhirnya meningkatkan tonus otot yang menimbulkan berbagai efek seperti spasme otot yang akhirnya menekan pembuluh darah, mengurangi aliran darah dan meningkatkan kecepatan metabolisme otot yang menimbulkan pengiriman impuls nyeri dari medulla spinalis ke otak dan dipersepsikan sebagai nyeri.

  1. 3.  Melatih Batuk Efektif
  2. a.      PENGERTIAN

Batuk efektif adalah latihan batuk untuk mengeluarkan sekret.

  1. b.      INDIKASI :

1)    Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada :
– Pasien yang memakai ventilasi
– Pasien yang melakukan tirah baring yang lama
– Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis
– Pasien dengan batuk yang tidak efektif .

2)    Mobilisasi sekret yang tertahan :
– Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret
– Pasien dengan abses paru
– Pasien dengan pneumonia

–          Pasien pre dan post operatif
-Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk

  1. c.       KONTRA INDIKASI
  • Tension pneumotoraks
  • Hemoptisis
  • Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark miokard akutrd infark dan aritmia.
  • Edema paru
  • Efusi pleura yang luas
  1. d.      ALAT DAN BAHAN
  • Sputum pot
  • Lisol 2-3%
  • Handuk pengalas
  • Peniti
  • Bantal jika di perlukan
  • Tissu
  • Bengkok
  1. e.       LANGKAH PROSEDUR

–          Setelah dilakukan pengobatan bronkodilator (jika di resepkan),tarik nafas dalam lewat hidung dan tarik nafas untuk beberapa detik.

–          Batukkan dua kali,batuk pertama untuk melepas mukus dan batuk ke dua untuk mengeluarkan sekret. Bila pasien merasa nyeri dada,pada saat batuk tekan dada dengan bantal. Tampung sekret pada sputum pot yang berisi lisol.

–          Untuk batuk menghembus,sedikit maju ke depan dan ekspirasi kuat dengan suara “hembusan”.Teknik ini menjaga jalan nafas terbuka ketika sekresi bergerak ke atas dan keluar dari paru.

–          Inspirasi dengan nafas pendek cepat secara bergantian (menghirup) untuk mencegah mukus bergerak kembali ke jalan nafas yang sempit.

–          Istirahat.Hindari penggunaan waktu yang lama selama batuk karena dapat menyebabkan fatiq (kelelahan) dan hypoxia.

Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan anestesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teransetesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut.

Batuk efektif : merupakan suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara maksimal.

  1. f.       TUJUAN BATUK EFEKTIF

–          Merangsang terbukanya system kolateral.

–          Meningkatkan distribusi ventilasi.

–          Meningkatkan volume paru

–          Memfasilitasi pembersihan saluran napas ( Jenkins, 1996 )

Batuk Yang tidak efektif menyebabkan :

–          Kolaps saluran nafas

–          Ruptur dinding alveoli

–          Pneumothorak

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN

Bernafas dengan teknik yang benar yaitu dengan menarik nafas panjang dan dalam, maka organ-organ dalam tubuh Anda untuk bekerja secara optimal. Menarik nafas dalam-dalam adalah hal penting bagi kesehatan fisik maupun emosi. Tetapi, karena bernafas cenderung dianggap sebuah refleks menyebabkan aktivitas menghirup nafas secara dalam sering dilupakan.

  1. B.     SARAN

Dengan adanya makalah ini, diharapkan pembaca bis amemahami tentang tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam mengatur posisi klien dengan gangguan sistem pernapasan, teknik napas dalam serta cara melatih batuk kering.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan medikal bedah. Edisi 8 Vol.1. Alih Bahasa : Agung waluyo. Jakarta. EGC.

Priharjo, R. (2003). Perawatan nyeri. Jakarta. EGC.

http://fundamental-of-nursing.blogspot.com/

Perry, Peterson, Potter. 2005. Buku Saku Ketrampilan Dan Prosedur Dasar. Edisi5.Alih Bahasa: Rosidah, Monika Ester. Jakarta: EGC.

Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Alih Bahasa: Agung Waluyo,dkk. Jakarta: EGC.

Kusyati Eni Ns, dkk. 2006. Ketrampilan Dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar. Jakarta: EGC

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s