CARA MEMANDIKAN PASIEN DI TEMPAT TIDUR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perawat bekerja dengan bervariasi klien yang memerlukan bantuan hygiene pribadi atau harus belajar teknik hygiene yang sesuai. Hygiene adalah ilmu kesehatan. Cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka disebut hygiene perorangan. Cara perawatan diri menjadi rumit dikarenakan kondisi fisik atau keadaan emosional klien.
Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan dan kesehatan. Seperti pada orang sehat memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri, pada orang sakit atau tantangan fisik memelukan bantuan perawat untuk melakukan praktek kesehatan yang rutin. Selain itu, beragam faktor pribadi dan sosial budaya mempengaruhi praktek hygiene klien. Perawat menentukan kemampuan klien untuk melakukan perawaan diri dan memberikan perawatan hygiene menurut kebutuhan dan pilihan klien.
Memandikan klien merupakan bagian perawatan hygiene total. Mandi dapat dikategorisasikan sebagai pembersihan atau terapetik. Mandi adalah salah satu cara mempertahakan kebersihan kulit. Mandi akan membantu menciptakan suasana rileks, menstimulasi sirkulasi pada kulit, meningkatkan rentang gerak selama mandi, meningkatkan citra diri dan menstimulasi kecepatan maupun kedalaman respirasi.
Ketika klien tidak mampu mandi atau melakukan perawatan kulit pribadi maka perawat memberikan bantuan penting atau mengajarkan keluarga atau temannya bagaimana memberikan hygiene dengan cara dan pada waktu yang tepat. Interaksi antara perawat dan klien selama mandi atau perawatan kulit akan memberi perawat kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang berarti dengan klien.
Mengganti alat tenun (bad making) atau yang lebih dikenal dengan merapikan tempat tidur merupakan bagian personal hygiene karena tempat tidur yang bersih dan rapi memberikan keamanan dan kenyamanan untuk peningkatan kesejahteraan pasien.

1.2 Permasalahan
Adapun permasalahan yang kami angkat dalam makalah ini adalah bagaimana teknik-teknik memandikan pasien di tempat tidur dan bad making.

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui bagaimana cara memandikan pasien di tempat tidur dengan tepat dan benar.
b. Untuk mengetahui bagaimana cara merapikan tempat tidur (bad making) dengan cepat dan efektif.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Dasar Teori
Beberapa pasien mungkin harus dimandikan di tempat tidur. Pasien lain dengan izin dokter diperbolehkan untuk mandi tub atau mandi shower. Perawatann mandi dengan air hangat dan sabun yang lembut diberikan untuk menghilangkan kotoran dan keringat, meningkatan sirkulasi dan memberikan latihan ringan pada pasien (Hegner, 2003).
Mandi parsial atau mandi sebagian di tempat tidur termsuk memandikan hanya bagian badan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau bau jika tidak mandi (misalnya tangan, muka, daerah perineal dan axilla) (Potter, 2006).
Kamar pasien tanpa melihat tempat tidurnya adalah rumah bagi pasien selama ia berada di Rumah sakit. Tempat tidur yang rapi memberikan keamanan dan kenyamanan yang sangat berperan penting bagi kesejahteraan pasien (Hegner, 2003).
Sikap baring pasien sebaiknya diusahakan yang menyenangkan baginya. Pasien yang tidak dapat bergerak aktif sendiri karena lumpuh atau pingsan harus diubah sikap baringnya 2 sampai 3 jamkarena daerah yang tertekan terus menerus dapat terganggu aliaran darahnya sehingga mudah timbul dekubitus (Rosmawarna, 1985).

2.2 Tujuan Tindakan
2.2.1 Tujuan Tindakan memandikan pasien di tempat tidur
1. Membersihkan badan
2. Memberikan perasaan segar
3. Merangsang peredaran darah, otot-otot, dan urat saraf bagian periver (saraf tepi)
4. Sebagai pengobatan
5. Mencegah timbulnya luka dan komplikasi pada kulit
6. Mendidik penderita dalam kebersihan perorangan
2.2.2 Tujuan Tindakan membereskan tempat tidur (bad making)
1. Agar kamar tidur pasien terlihat lebih bersih dan rapi
2. Menciptakan rasa aman bagi pasien
3. Agar tidak menimbulkan cidera pada pasien yang harus berbaring total (bedrest)

2.3 Prinsip memandikan pasien
1. Bersih
2. Menjaga privasi

2.4 Indikasi
2.4.1 Indikasi memandikan pasien di tempat tidur
1. Semua pasien untuk memenuhi kebutuhan hygienenya
2.4.2 Indikasi membereskan tempat tidur (bad making)
1. Pada penderita bedrest
2. Pada pasien sesak nafas
3. Pada pasien yang tidak dapat tidur terlentang
2.5 Alat dan Bahan
2.5.1 Alat dan Bahan tindakan memandikan pasien di tempat tidur
1. Baskom mandi dua buah, masing-masing beridi air dingin dan air hangat
2. Pakaian pengganti
3. Kain penutup
4. Handuk dua buah
5. Sarung tangan pengusap badan (Washcloth) dua buah
6. Tempat untuk pakaian kotor
7. Sampiran
8. Sabun
9. Bedak, deodorant, lotion
10. Stik menicure, sikat kuku, neirbekken (perawatan kuku)
11. Sisir, sampo (perawatan rambut)
12. Sikat gigi, pasta gigi (perawatan mulut dan gigi)
2.5.2 Alat dan Bahan tindakan membereskan tempat tidur (bad making)
1. Tempat tidur, kasur, bantal
2. Seprei besar dan kecil
3. Perlak
4. Selimut
5. Sarung bantal
6. Keranjang/plastik tempat kain kotor
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Cara Kerja
3.1.1 Cara kerja tindakan Memandikan Pasien di Tempat Tidur
1. Jelaskan prosedur pada pasien
2. Cuci tangan . Ingatlah untuk mencuci tangan, mengidentifikasi pasien dan memberikan privasi
3. Siapkan semua peralatan yang diperlukan.
4. Pastikan semua jendela dan pintu dalam keadaan tertutup.

5. Atur posisi pasien.
6. Lepaskan pakaian tidur pasien dan letakkan di tempat pakaian kotor ( pasien dianggap tidak memakai infus)
a. Longgarkan pakaian mulai dari leher
b. Lepaskan pakaian menuruni lengan
c. Pastikan bahwa pasien diselimuti dengan selimut mandi .
d. Jika pada saat itu pasien sedang diinfus:
1) Lepaskan pakaian dari lengan yang tidak diinfus
2) Gulung lengan pakaian itu ke belakang badan dan melewati lengan dan lokasi yang diinfus. Hati-hati dengan selang infus.
3) Lipat bahan pakaian itu dengan satu tangan sehingga tidak ada tarikan atau tekanan pada selang dan perlahan-lahan turunkan pakaian melewati ujung jari
4) Dengan tangan yang lain, angkat selang infus dari tiangnya dan masukkan dalam lipatan pakaian (gbr 6) pastikan untuk tidak merendahkan botol infus. Tarik pakaiannya (gbr 7), kembalikan botol infus ke tiang penggantungnya.

7. Bantulah pasien untuk bergerak ke sisi tempat tidur yang dekat dengan anda. Mulailah dengan yang trjauh dari anda.
8. Lipat handuk wajah di tepi atas selimut mandi agar tetap kering. Pakai sarung tangan jika perlu.
9. Buat sarung tangan dengan meliapat washcloth di sekitar tangan.
a. Basahi washcloth.
b. Basuh mata pasien, gunakan ujung handuk yang berbe.
c. Usap dari dalam keluar.
d. Jangan menggunakan sabun dekat mata.
e. Jangan menggunakan sabun pada wajah kecuali permintaan pasien.
10. Bilas washclothcara memendikan dan beri sabun jika pasien menginginkan. Peras washcloth, jangan meninggalkan sabun dalam air.
11. Basuh dan bilas wajah, telinga dan lehernya dengan baik, gunakan handuk untuk mengeringkannya.
12. Buka lengan pasien yang terjauh (terjauh dari anda). Tutupi ranjang dengan handuk mandi yang diletakkan di bawah lengan.
a. Basuh,dengan arah akral (ujung) ke arah axilla, bilas dan keringkan lengan dan tangan.
b. Pastikan axilla bersih dan kering.
c. Ulangi untuk lengan yang lain (lengan yang terdekat dari anda).
d. Pakaikan deodorant dan bedak jika pasien memintanya atau membutuhkannya.
 Perawatan Kuku.Ø
a. Letakkan tangan dalam baskom air, rendam kurang lebih selama 2 menit dan sikat dengan beri sabun bila kotor. Basuh tangan dengan hati-hati. Bilas dan keringkan. Tekan kutikula (dasar kuku) dengan lembut menggunakan handuk ketika mengeringkan jari tangan.
b. Letakkan tangan di nierbekken. Bersihkan kuku bagian dalam stik manikur. Bentuk kuku dengan emery board. Hati-hati jangan memotong kuku terlalu pendek. Jangan memotong kuku jika pasien diabetes.
13. Tutupi dada pasien dengan handuk mandi. Kemudian lipat selimut sampai ke pinggang di bawah handuk :
a. Basuh, bilas dan keringkan bagian dada .
b. Bilas dan keringkan lipatan di bawah payudara pasien wanita untuk menghindari iritasi kulit.
c. Beri sedikit bedak jika perlu sesuai dengan ketentuan fasilitas.
d. Jangan biarkan bedak menempel.
14. Lipat selimut mandi sampai ke daerah pubis (tempat genitalia eksterna). Basuh, bilas dan keringkan daerah abdomen. Lipat selimut mandi ke atas untuk menutupi perut dan dada. Ambil handuk dari bawah selimut mandi.
15. Minta pasien untuk menekuk lututnya, jika mungkin. Lipat handuk mandi ke atas agar paha, tungkai dan kaki terbuka. Tutupi ranjang dengan handuk mandi.
a. Letakkan baskom mandi di atas handuk.
b. Letakkan kaki pasien di dalam baskom .
c. Basuh dan bilas tungkai dan kaki.
d. Pada saat memindahkan kaki, topang kaki dengan benar.
16. Angkat kaki dan pindahkan baskom ke sisi lain tempat tidur. Keringkan tungkai dan kaki. Keringkan dengan baik sela-sela jari kaki.
17. Ulangi untuk tungkai dan kaki yang lain. Angkat baskom dari tempat tidur sebelum mengeringkan tungkai dan kaki.
18. Lakukan perawatan kuku jika perlu. Usapkan lotion pada kaki pasien yang berkulit kering.
19. Bantu pasien untuk miring ke arah yang berlawanan dengan anda. Bantu pasien untuk bergerak ke tengah tempat tidur. Letakkan handuk mandi memanjang berdekatan dengan punggung pasien.
a. Basuh, bilas dan keringkan leher, punggung dan bokong.
b. Gunakan usapan yang tegas dan memanjang ketika membasuh punggung. Beri lotion, massage

20. Usapan punggung biasanya dilakukan pada saat ini. Bantu pasien telentang.
21. Letakkan handuk di bawah bokong dan tungkai atas. Letakkan washcloth, sabun, baskom,dan handuk mandi dalam jangkauan pasien (gbr 17).
22. Minta pasien untuk menyelesaikan mandinya dengan membersihkan genitalianya. Bantulah pasien jika perlu. Anda harus mengambil alih tanggung jawab tersebut, jika pasien mengalami kesulitan. Seringkali pasien merasa enggan uuntuk meminta bantuan. Jika membantu pasien, gunakan sarung tangan sekali pakai.
a. Untuk pasien wanita,basuh dari depan ke belakang, keringkan dengan hati-hati.
b. Untuk pasien pria, pastikan untuk membasuh dan mengeringkan penis, scrotum, dan daerah pangkal paha dengan hati-hati.
23. Lakukan latihan rentang gerak sesuai perintah.
24. Tutupi bantal dengan handuk. Lakukan perawatan rambut, sisir atau sikat rambut pasien. Perawatan mulut biasanya diberikan pada saat ini.
25. Letakkan handuk-handuk dan washcloth di tempat linen kotor.
26. Siapkan pakaian bersih. Jika pasien memakai infus, tanyakan pada perawat sebelum melakukan prosedur a sampai f. Tanyakan apakah pakaian (1) dimasukkan melewati lengan yang terpasang infus atau (2) tidak memasukkan lengan hanya menutupi bahu (seperti jika pasien memakai infus multiple atau pompa infus) jika keadaannya seperti nomor 1, maka:
a. Pegang lengan baju di sisi selang infus dengan satu tangan.
b. Angkat botol infus dari tiangnya, pertahankan ketinggiannya.
c. Selipkan botol infus melalui lengan bahu dari bagian dalam dan gantung kembali botol infus tersebut.
d. Tarik baju sepanjang selang infus sampai ke tempat tidur.
e. Masukkan pakaian melalui tangan. Lakukan dengan hati-hati agar tidak mempengaruhi area infusan.
f. Posisikan pakaian pada lengan yang terpasang selang infus. Kemudian masukkan lengan yang satunya.
27. Bersihkan dan kembalikan alat-alat.
28. Letakkan washcloth dan handuk-handuk bersih di sandaran sisi tempat tidur atau gantung.
29. Ganti linen setelah melakukan prosedur merapikan tempat tidur occupied. Ganti dan letakkan linen kotor pada tempat linen kotor.
30. Lakukan semua tindakan penyelesaian prosedur.
31. Ingatlah untuk mencuci tangan anda.
32. Laporkan penyelesaian tugas dan mendokumentasikan waktu, memandikan di tempat tidur dan reaksi pasien.

3.1. Cara kerja tindakan membereskan tempat tidur (bad making)
A. Menyiapkan tempat tidur tanpa pasien
1. Cuci tangan
2. Letakkan seprei dengan lipatan memanjang dengan garis tengahnya untuk menentukan tengah-tengah tempat tidur
3. Masukkan seprei bagian kepala ke bawah kasur kira-kira 30 cm.
4. Masukkan seprei bagian kaki ± 25 cm, lalu kita membuat sudut dari kepala, terus ke bagian kaki.
5. Masukkan sisi-sisi dari seprei ke bawah kasur .

6. Letakkan perlak melintang ± 50 cm dari garis kasur bagian kepala, lalu dimasukkan ke bawah kasur bersama-sama.
7. Letakkan selimut ± 15 cm dari garis kasur bagian kepala, masukkan selimut bagian kaki ke bawah kasur bersama-sama.
8. Sarung bantal dipasang, bantal diletakkan dengan bagian yang tertutup kejurusan pintu.
9. Bereskan alat-alat lalu cuci tangan
1. Melipat Sisi dengan Cara “mitred corners”
Selipkan seprei di bagian bawah tempat tidur dan biarkan bagian sisi lepas. Angkat sisi seprei, sekitar 45 cm (18 inchi) dari sudut ranjang. Selipkan bagian top sheet yang tergantung lepas dekat sudut tempat tidur. Sisi seprei lipat ke bawah tempat tidur
2. Melipat Seprei atau Selimut di Tempat Tidur
Setelah seprei atau selimut dipasang di atas tempat tidurangkat dulu bagian tengah bawah sekitar 30 cm (12 inchi) ke atas sebelum anda selipkan ke bawah kasur. Kemudian lipat ke satu sisi sedemikian rupa sehingga merupakan ploi bara selipkan seprei atau selimut tersebut ke bawah kasur (gbr 27).
Mengganti Sarung Bantal
Masukkan tangan ke dalam sarung bantal, pegang sudut-sudut terjauh bantal tersebut lalu lipatkan posisinya di dalam sarung bantal. Secara bertahap masukkan bantal ke dalam sarungnya.

Membereskan tempat tidur yang ditempati pasien
ÃOleh satu perawat
1. Tempatkan kursi memunggungi sisi bawah tempat tidur.
2. Lepaskan alas pada satu sisi tempat tidur, baru pada sisi yang lain.
3. Angkat semua bantal kecuali satu.
4. Lepaskan sarung bantal, letakkan bantal di kursi.

Mengganti alas tempat tidur (seprei)
5. Rapikan penutup kasur.
6. Letakkan seprei bersihseparuh tergulung memanjang menyebelah gulungan seprei kotor. Selipkan separuh seprei dan atur sudutnya dengan cara “mitre”.
7. Kalau menggunakan alas plastik gulung di setengah bagian tempat tidur lalu selipkan. Jika menggunakan alas khsus yang prelu diganti, tempatkan dahulu yang bersih setengah tergulung memanjang di samping yang kotor dan selipkan separuh sisanya. Kalau alas khusus ini bersih, tarik dan selipkan.
8. Palingkan pasien sehingga berbaring pada punggung, melewati kain yang tergulung terus ke sisi yang lain.tarik bantal perlahan ke sisi anda dan jaga agar kepala pasien tetap di atas bantal.
9. Pergilah ke sisi lain tempat tidur, tarik dan angkat alas yang kotor, luruskan penutup kasur. Kalau alas masih bersih dan tidak perlu diganti maka luruskan. “mitre” sudut-sudutnya dan selipkan di bawah kasur. Tarik masuk alas khusus dan lapis plastiknya lalu selipkan.
10. Kalau anda mengganti seprei, gulung seprei yang bersih.selipkan dan susun sudutnya dengan cara “mitre”. Lepaskan kembali gulungan dan selipkan lapisan plastik dan alas khusus tersebut.
11. Gulingkan pasien agar berbaring terlentang di tengah tempat tidur. Tempatkan pada posisi yang nyaman. Ganti sarung bantal apabila perlu dan tempatkan kembali.
Menggantikan selimut
12. Angkat tutup atas atau selimut yang menutupi pasien, kalau memang ada. Ganti dengan yang bersih apabila perlu. Bereskan tempat tidur, lipat tutup atas atau selimut dan “mitre” sudutnya. Lipat tutup atas di atas bedcover. Ganti tutup atas dan duvet sesuai kondisi.
13. Perhatikan agar pasien cukup nyaman.
Penanganan Akhir
Bersihkan semua peralatan. Letakkan kembali perabot yang tadi dipindahkan. Jangan lupa untuk mencuci tangan.
OlÃeh dua perawat
1. Tempatkan kursi memunggungi tempat tidur.
2. Lepaskan semua alas.
3. Angkat semua bantal kecuali satu. Lepaskan sarungnya. Letakkan di atas kursi.
4. Angkat selimut dan alas teratas secara terpisah. Lipat sepertiga atas sampai ke tengah, juga sepertiga bagian bawah. Angkat bersama-sama dan letakkan di atas kursi. Masukkan kain di keranjang atau kantung plastik. Biarkan pasien tertutup satu lapis alas dan selimut kalau ruangan cukup dingin.
5. Palingkan ke satu sisi tempat tidur. Perhatikan agar kepalanya terletak di atas bantal dan kakinya tertopang dengan baik .
6. Pegang pasien kuat-kuat saat dia berada di pinggir tempat tidur, yang lain menggulung setiap alas secara terpisah ke bagian tengah tempat tidur . Kalau tidak di pasang yang baru, betulkan yang lama agar tidak berkerut. Buang semua kotoran yang ada di atas.
Mengganti alas tempat tidur (sprei)
7. Rapikan penutup kasur.
8. Pasang sprei separuh tergulung memanjang di sebelah yang kotor. Selipkan separuh sprei dan atur sudutnya dengan menyelipkannya
9. Kalau anda menggunakan alas plastik maka gulung tengah tempat tidur lalu selipkan. Kalau menggunakan alas yang perlu dig anti, tempatkan alas setengah tergulung memanjang, di samping alas kotor dan selipkan sisanya . Kalau alas khusus ini bersih, tarik dan selipkan.
10. Pindahkan bantal ke sisi lain, palingkan pasien ke atas kain tersebut ke sisi yang lain.
11. Tarik dan angkat alas yang kotor. Luruskan penutup kasur. Kalau alas masih bersih dan tak perlu diganti, rapikan sudut-sudutnya dan selipkan di bawah kasur. Tarik masuk alas khusus dan lapis plastiknya lalu selipkan.
12. Kalau anda mengganti sprei, gulung sprei, selipkan dan rapikan sudutnya. Lepaskan kembali gulungan dan selipkan lapisan plastik alas khusus tersebut
13. Gulingkan pasien agar terbaring terlentang di tengah tempat tidur, ganti sarung bantal jika perlu.
Mengganti tutup atas tempat tidur
14. Angkat tutup atas atau selimut yang menutupi pasien. Ganti dengan yang bersih. Bereskan tempat tidur, lipat tutup atas dan selimut, rapikan sudutnya. Lipat di atas bedcover.
15. Perhatikan agar pasien cukup nyaman.

Penanganan Akhir
Bersihkan semua peralatan dan kembalikan perabot yang tadi dipindahkan. Jangan lupa untuk mencuci tangan.

B. Membereskan tempat tidur pada pasien yang tidak dapat berbaring terlentang.
Jika kita mengurus seseorang yang tidak mampu berbaring terlentang ataupun keluar tempat tidur, maka sebaiknya modifikasi prosedur yang dijelaskan untuk tempat tidur yang ditempati pasien yang dapat berbaring.
1. Jangan palinkan pasien ke satu sisi. Tapi angkat dan dudukkan di ujung tempat tidur dengan kaki menggantung ke satu sisi
2. Topang kaki yang menggantung itu dengan meja penopang khusus atau kursi kalau tingginya memang sesuai.
3. Gulung semua alas ke bawah sampai ke bagian tengah tempat tidur.
4. Setelah beres pindahkan pasien ke bagian atas tempat tidur dan dudukkan pada posisi yang nyaman sementara kita mengangkat alas yang kotor dan membereskan bagian bawah.
5. Kalau bekerja sendiri gunakan bantal untuk menopang punggung pasien disaat pasien duduk.
6. Tugas kita akan lebih mudah jika ada yang membantu. Maka satu orang dapat menopang pasien sementara yang lain mengangkat alas yang kotor dan membereskan tempat tidur

ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS

 

 

A.    DEFINISI

            Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah (Mansjoer dkk,1999). Sedangkan menurut Francis dan John (2000), Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya.

            Klasifikasi Diabetes Mellitus dari National Diabetus Data Group: Classification and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Other Categories of Glucosa Intolerance:

1.      Klasifikasi Klinis

a.       Diabetes Mellitus

1)      Tipe tergantung insulin (DMTI), Tipe I

2)      Tipe tak tergantung insulin (DMTTI), Tipe II (DMTTI yang tidak mengalami obesitas , dan DMTTI dengan obesitas)

b.      Gangguan Toleransi Glukosa (GTG)

c.       Diabetes Kehamilan (GDM)

2.      Klasifikasi risiko statistik

a.       Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa

b.      Berpotensi menderita kelainan toleransi glukosa

 

      Pada Diabetes Mellitus tipe 1 sel-sel β pancreas yang secara normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun, sebagai akibatnya penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun. Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat  penurunan jumlah produksi insulin.

 

B.     ETIOLOGI

1.      Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI)

a.       Faktor genetic :

Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.

b.      Faktor imunologi :

Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

c.       Faktor lingkungan

Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.

2.      Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)

Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.

Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price,1995). Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak.

Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah:

a.       Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)

b.      Obesitas

c.       Riwayat keluarga

d.      Kelompok etnik

 

C.    MANIFESTASI KLINIS

Menurut Askandar (1998) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu:

1.      Keluhan TRIAS: Banyak minum, Banyak kencing dan Penurunan berat badan.

2.      Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl

3.      Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl

 

Sedangkan menurut Waspadji (1996) keluhan yang sering terjadi pada penderita Diabetes Mellitus adalah: Poliuria, Polidipsia, Polifagia, Berat badan menurun, Lemah, Kesemutan, Gatal, Visus menurun, Bisul/luka, Keputihan.

 

D.    PATOFISIOLOGI

            Ibarat suatu mesin, tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Disamping itu tubuh juga memerlukan energi supaya sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari bahan makanan yang kita makan setiap hari. Bahan makanan tersebut terdiri dari unsur karbohidrat, lemak dan protein (Suyono,1999). 

            Pada keadaan normal kurang lebih 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 10% menjadi glikogen dan 20% sampai 40% diubah menjadi lemak. Pada Diabetes Mellitus semua proses tersebut terganggu karena terdapat defisiensi insulin. Penyerapan glukosa kedalam sel macet dan metabolismenya terganggu. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah sehingga terjadi hiperglikemia.

            Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh karena gagalnya hormon insulin. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini, karena ambang batas untuk gula darah adalah 180 mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Sehubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intra selluler, hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi.

            Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak dan protein menjadi menipis. Karena digunakan untuk melakukan pembakaran dalam tubuh, maka klien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Terlalu banyak lemak yang dibakar maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan keasaman darah meningkat atau asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak hingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan, akibatnya bau urine dan napas penderita berbau aseton atau bau buah-buahan. Keadaan asidosis ini apabila tidak segera diobati akan terjadi koma yang disebut koma diabetik (Price,1995).

 

 

 

PATHWAY

 

      DM Tipe I                                                                                          DM Tipe II

Jmh sel β pancreas menurun

sel β pancreas hancur

Defisiensi insulin

Katabolisme protein meningkat

Lipolisis meningkat

Hiperglikemia

Idiopatik, usia, genetil, dll

Reaksi Autoimun

=coma

Glukosuria

Diuresis Osmotik

Penurunan BB polipagi

Glukoneogenesis meningkat

Kehilangan elektrolit urine

Gliserol asam lemak bebas meningkat

Ketogenesis

Kehilangan cairan hipotonik

Hiperosmolaritas

Polidipsi

ketoasidosis

ketonuria

E.     DATA PENUNJANG

1.      Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa > 200 mg/dl, 2 jam setelah pemberian glukosa.

2.      Aseton plasma (keton) positif secara mencolok.

3.      Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat

4.      Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya < 330 mOsm/I

5.      Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, K normal atau peningkatan semu selanjutnya akan menurun, fosfor sering menurun.

6.      Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3

7.      Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis dan hemokonsentrasi merupakan respon terhadap stress atau infeksi.

8.      Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal

9.      Insulin darh: mungkin menurun/tidak ada (Tipe I) atau normal sampai tinggi (Tipe II)

10.  Urine: gula dan aseton positif

11.  Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK, infeksi pernafasan dan infeksi luka.

 

RENCANA KEPERAWATAN

No

Diagnosa

Tujuan

Intervensi

Rasional

1

Nyeri akut

Setelah dilakukan askep selama 3 x 24 jam tingkat kenyamanan klien meningkat, dan dibuktikan dengan level nyeri: klien dapat melaporkan nyeri pada petugas, frekuensi nyeri, ekspresi wajah,  dan menyatakan kenyamanan fisik dan psikologis, TD 120/80 mmHg, N: 60-100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt

Control nyeri  dibuktikan dengan klien melaporkan gejala nyeri dan control nyeri.

Manajemen nyeri :

1.    Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan ontro presipitasi.

2.    Observasi  reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.

3.    Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.

4.    Kontrol ontro lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan.

5.    Kurangi ontro presipitasi nyeri.

6.    Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis)..

7.    Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri..

8.    Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.

9.    Evaluasi tindakan pengurang nyeri/ontrol nyeri.

10.Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil.

11.Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri.

 

Administrasi analgetik :.

1.    Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.

2.    Cek riwayat alergi..

3.    Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal.

4.    Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik.

5.    Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul.

6.    Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping.

  • Respon nyeri sangat individual sehingga penangananyapun berbeda untuk masing-masing individu.
  • Komunikasi yang terapetik mampu meningkatkan rasa percaya klien terhadap perawat sehingga dapat lebih kooperatif dalam program manajemen nyeri.
  • Lingkungan yang nyaman dapat membantu klien untuk mereduksi nyeri.
  • Pengalihan nyeri dengan relaksasi dan distraksi dapat mengurangi nyeri yang sedang timbul.
  • Pemberian analgetik yang tepat dapat membantu klien untuk beradaptasi dan mengatasi nyeri.

 

 

 

 

 

 

 

  • Tindakan evaluatif terhadap penanganan nyeri dapat dijadikan rujukan untuk penanganan nyeri yang mungkin muncul berikutnya atau yang sedang berlangsung.

 

2

PK : Infeksi

Setelah dilakukan askep selama 5 x 24 jam perawat akan menangani / mengurangi komplikasi defsiensi imun  

1.    Pantau tanda dan gejala infeksi primer & sekunder

2.    Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.

3.    Batasi pengunjung bila perlu.

4.    Intruksikan kepada keluarga untuk mencuci tangan saat kontak dan sesudahnya.

5.    Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan.

6.    Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.

7.    Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung.

8.    Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.

9.    Lakukan perawatan luka dan dresing infus setiap hari.

10.Amati keadaan luka dan sekitarnya dari tanda – tanda meluasnya infeksi

11.Tingkatkan intake nutrisi.dan cairan

12.Berikan antibiotik sesuai program.

13.Monitor hitung granulosit dan WBC.

14.Ambil kultur jika perlu dan laporkan bila hasilnya positip.

15.Dorong istirahat yang cukup.

16.Dorong peningkatan mobilitas dan latihan.

17.Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi.

  • Penularan infeksi dapat melalui pengunjung yang mempunyai penyekit menular.
  • Tindakan antiseptik dapat mengurangi pemaparan klien dari sumber infeksi
  • Pengunaan alat pengaman dapat melindungi klien dan petugas dari tertularnya penyakit infeksi.
  • Perawatan luka setiap hari dapat mengurangi terjadinya infeksi serta dapat untuk mengevaluasi kondisi luka.
  • Penemuan secara dini tanda-tanda infeksi dapat mempercepat penanganan yang diperlukan sehingga klien dapat segera terhindar dari resiko infeksi atau terjadinya infeksi dapat dibatasi.
  • Pengguanan teknik aseptik dan isolasi klien dapat mengurangi pemaparan dan penyebaran infeksi.
  • Satus nutrisi yang adekuat, istirahat yang cukup serta mobilisasi dan latihan yang teratur dapat meningkatkan percepatan proses penyembuhan luka.
  • Hasil kultur positif menunjukan telah terjadi infeksi.

3

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Setelah dilakukan askep selama 3×24 jam klien menunjukan status nutrisi adekuat dibuktikan dengan BB stabil tidak terjadi mal nutrisi, tingkat energi adekuat, masukan nutrisi adekuat

Manajemen Nutrisi

1.   kaji pola makan klien

2.   Kaji adanya alergi makanan.

3.   Kaji makanan yang disukai oleh klien.

4.   Kolaborasi dg ahli gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien.

5.   Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya.

6.   Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi.

7.   Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien.

Monitor Nutrisi

1.   Monitor BB setiap hari jika memungkinkan.

2.   Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan.

3.   Monitor lingkungan selama makan.

4.   Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan.

5.   Monitor adanya mual muntah.

6.   Monitor adanya gangguan dalam proses mastikasi/input makanan misalnya perdarahan, bengkak dsb.

7.   Monitor intake nutrisi dan kalori.

Manajemen nutrisi dan monitor nutrisi yang adekuat dapat membantu klien mendapatkan nutrisi sesuai dengan kebutuha tubuhnya.

4

PK: Hipo / Hiperglikemi

Setelah dilakukan askep 3×24 jam diharapkan perawat akan menangani dan meminimalkan episode hipo / hiperglikemia.

Managemen Hipoglikemia:

1.       Monitor tingkat gula darah sesuai indikasi

2.       Monitor tanda dan gejala hipoglikemi ; kadar gula darah < 70 mg/dl, kulit dingin, lembab pucat, tachikardi, peka rangsang, gelisah, tidak sadar , bingung, ngantuk.

3.       Jika klien dapat menelan berikan jus jeruk / sejenis jahe setiap 15 menit sampai kadar gula darah > 69 mg/dl

4.       Berikan glukosa 50 % dalam IV sesuai protokol

5.       K/P kolaborasi dengan ahli gizi untuk dietnya.

 

Managemen Hiperglikemia

1.       Monitor GDR sesuai indikasi

2.       Monitor tanda dan gejala diabetik ketoasidosis ; gula darah > 300 mg/dl, pernafasan bau aseton, sakit kepala, pernafasan kusmaul, anoreksia, mual dan muntah, tachikardi, TD rendah, polyuria, polidypsia,poliphagia, keletihan, pandangan kabur atau kadar Na,K,Po4 menurun.

3.       Monitor v/s :TD dan nadi sesuai indikasi

4.       Berikan insulin sesuai order

5.       Pertahankan akses IV

6.       Berikan IV fluids sesuai kebutuhan

7.       Konsultasi dengan dokter jika tanda dan gejala Hiperglikemia menetap atau memburuk

8.       Dampingi/ Bantu ambulasi jika terjadi hipotensi

9.       Batasi latihan ketika gula darah >250 mg/dl khususnya adanya keton pada urine

10.    Pantau jantung dan sirkulasi ( frekuensi & irama, warna kulit, waktu pengisian kapiler, nadi perifer dan kalium

11.    Anjurkan banyak minum

12.    Monitor status cairan I/O sesuai kebutuhan

Hipoglikemia dapat disebabkan oleh insulin yang berlebian, pemasukan makanan yg tidak adekuat, aktivitas fisik yang berlebiha, Hipoglikemia akan merangsang SS simpatis u/ mengeluarkan adrenalin, klien menjadi berkeringat, akral dingin, gelisah dan tachikardi.

 

 

 

 

 

 

 

Hiperglikemia dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya: terlalu banyak makan / kurang makan, terlalu sedikit insulin, dan kurang aktivitas.

4

Kerusakan integritas jaringan

Setelah dilakukan askep 6×24 jam Wound healing meningkat:

Dengan criteria

Luka mengecil dalam ukuran dan peningkatan granulasi jaringan

Wound care

1.       Catat karakteristik luka:tentukan ukuran dan kedalaman luka, dan klasifikasi pengaruh ulcers

2.       Catat karakteristik cairan secret yang keluar

3.       Bersihkan dengan cairan anti bakteri

4.       Bilas dengan cairan NaCl 0,9%

5.       Lakukan nekrotomi K/P

6.       Lakukan tampon yang sesuai

7.       Dressing dengan kasa steril sesuai kebutuhan

8.       Lakukan pembalutan

9.       Pertahankan tehnik dressing steril ketika melakukan perawatan luka

10.    Amati setiap perubahan pada balutan

11.    Bandingkan dan catat setiap adanya perubahan pada luka

12.    Berikan posisi terhindar dari tekanan

Pengkajian luka akan lebih

realible dilakukan oleh pemberi asuhan yang sama dengan posisi yang sama dan tehnik yang sama

5

Kerusakan mobilitas fisik

Setelah dilakukan Askep 6×24 jam dapat teridentifikasi Mobility level

Joint movement: aktif.

Self care:ADLs

Dengan criteria hasil:

1. Aktivitas fisik meningkat

2. ROM normal

3. Melaporkan perasaan peningkatan kekuatan kemampuan dalam bergerak

4. Klien bisa melakukan aktivitas

5. Kebersihan diri klien terpenuhi walaupun dibantu oleh perawat atau keluarga

Terapi Exercise : Pergerakan sendi

1.       Pastikan keterbatasan gerak sendi yang dialami

2.        Kolaborasi dengan fisioterapi

3.       Pastikan motivasi klien untuk mempertahankan pergerakan sendi

4.       Pastikan klien untuk mempertahankan pergerakan sendi

5.       Pastikan klien bebas dari nyeri sebelum diberikan latihan

6.       Anjurkan ROM Exercise aktif: jadual; keteraturan, Latih ROM pasif.

Exercise promotion

1.       Bantu identifikasi  program latihan yang sesuai

2.       Diskusikan dan instruksikan pada klien mengenai latihan yang tepat

Exercise terapi ambulasi

1.       Anjurkan dan Bantu klien duduk di tempat tidur sesuai toleransi

2.       Atur posisi setiap 2 jam atau sesuai toleransi

3.       Fasilitasi penggunaan alat Bantu

 

Self care assistance:

Bathing/hygiene, dressing, feeding and toileting.

1.       Dorong keluarga untuk berpartisipasi untuk kegiatan mandi dan kebersihan diri, berpakaian, makan dan toileting klien

2.       Berikan bantuan kebutuhan sehari – hari sampai klien dapat merawat secara mandiri

3.       Monitor kebersihan kuku, kulit, berpakaian , dietnya dan pola eliminasinya.

4.       Monitor kemampuan perawatan diri klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari

5.       Dorong klien melakukan aktivitas normal keseharian sesuai kemampuan

6.       Promosi aktivitas sesuai usia

 

ROM exercise membantu mempertahankan mobilitas sendi, meningkatkan sirkulasi, mencegah kontraktur, meningkatkan kenyamanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengetahuan yang cukup akan memotivasi klien untuk melakukan latihan.

 

 

Meningkatkan dan membantu berjalan/ ambulasi atau memperbaiki otonomi dan fungsi tubuh dari injuri

 

 

 

 

 

 

 

 

Memfasilitasi pasien dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri untuk dapat membantu klien hingga klien dapat mandiri melakukannya.

6

Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatan nya

Setelah dilakukan askep selama 3×24 jam, pengetahuan klien meningkat.

Knowledge : Illness Care dg kriteria :

1   Tahu Diitnya

2   Proses penyakit

3   Konservasi energi

4   Kontrol infeksi

5   Pengobatan

6   Aktivitas yang dianjurkan

7   Prosedur pengobatan

8   Regimen/aturan pengobatan

9   Sumber-sumber kesehatan

10                     Manajemen penyakit

 

Teaching : Dissease Process

1.       Kaji  tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit

2.       Jelaskan tentang patofisiologi penyakit, tanda dan gejala serta penyebab yang mungkin

3.       Sediakan informasi tentang kondisi klien

4.       Siapkan keluarga atau orang-orang yang berarti dengan informasi tentang perkembangan klien

5.       Sediakan informasi tentang diagnosa klien

6.       Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau kontrol proses penyakit

7.       Diskusikan tentang pilihan tentang terapi atau pengobatan

8.       Jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan atau terapi

9.       Dorong klien untuk menggali pilihan-pilihan atau memperoleh alternatif pilihan

10.    Gambarkan komplikasi yang mungkin terjadi

11.    Anjurkan klien untuk mencegah efek samping dari penyakit

12.    Gali sumber-sumber atau dukungan yang ada

13.    Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang muncul pada petugas kesehatan

14. kolaborasi dg  tim yang lain.

 

Dengan pengetahuan yang cukup maka keluarga mampu mengambil peranan yang positif dalam program pembelajaran tentang proses penyakit dan perawatan serta program pengobatan.

7

Defisit self care

Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3×24 jam klien mampu Perawatan diri

Self care :Activity Daly Living (ADL) dengan indicator :

  • Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (makan, berpakaian, kebersihan, toileting, ambulasi)
  • Kebersihan diri pasien terpenuhi

 

Bantuan perawatan diri

1.  Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri

2.  Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan

3.  Beri bantuan sampai klien mempunyai kemapuan untuk merawat diri

4.  Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.

5.  Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya

6.  Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin

7.  Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

8.  Berikan reinforcement atas usaha yang dilakukan dalam melakukan perawatan diri sehari hari.

Bantuan perawatan diri dapat membantu klien dalam beraktivitas dan melatih pasien untuk beraktivitas kembali

 

  

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta

Carpenito, L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, edisi 2, Penerbit EGC, Jakarta.

Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6, Penerbit EGC, Jakarta.

Joanne C.Mc Closkey. 1996. Nursing intervention classification (NIC). Mosby year book. St. Louis

Marion Johnon,dkk. 2000. Nursing outcome classification (NOC). Mosby year book. St. Louis

Marjory godon,dkk. 2000. Nursing diagnoses: Definition & classification 2001-2002. NANDA

NANDA International, 2001, Nursing Diagnosis Classification 2005 – 2006, USA

www.medicastore.com, 2004, Informasi tentang penyakit : Diabetes Melitus.

 

Asuhan Keperawatan Dengan GASTRITIS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 

Lambung merupakan sebuah kantung muskuler yang letaknya antara esophagus dan usus halus, sebelah kiri abdomen di bawah diafragma. Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya gerakan peristaltik, tekanan organ lain, dan postur tubuh. Lambung menampung makanan yang masuk melalui esophagus, menghancurkan makanan dengan gerakan peristaltik  lambung dan getah lambung. Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan apabila melihat, mencium, dan merasakan makanan maka sekresi lambung akan terangsang, karena pengaruh saraf sehingga menimbulkan rangsang kimiawi yang menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung. Namun, jika lambung mengalami gangguan, maka proses dalam mencerna makanan pun akan terganggun, yang tentunya akan membawa akibat pula pada organ tubuh yang lain. Gastritis, ulkus peptikum dan karsinoma gaster adalah beberapa gangguan/penyakit pada lambung. Olehnya itu, dalam bab selanjutnya akan dilakukan pembahasan lebih lanjut tentang ketiga penyakit ini, yang tentunya sangat perlu diketahui oleh perawat yang nantinya tidak menutup kemungkinan akan menghadapi pasien dengan penyakit tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah konsep penyakit dari gastritis, ulkus peptikum dan ca. gaster ?
2. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan yang dapat diterapkan pada penderita gastritis ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui  konsep penyakit dari gastritis, ulkus peptikum dan ca. gaster ?
2. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan yang dapat diterapkan pada penderita gastritis 

BAB II

PEMBAHASA

A. KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian
– Gastritis adalah (inflamasi mukosa lambung) sering akibat diet yang tidak teratur dan terkontrol (Suzanne C. Smeltzer, 2001)
– Gastritis (peradangan pada lambung) merupakan gangguan yang sering terjadi dengan karakteristik adanya anoreksia, rasa penuh dan tidak enak pada epigastrium, mual dan muntah (Barbara C. Long, 1996)
– Gastritis merupakan suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, atau lokal (Silvia A. Price, 2005)
– Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer,  2000)
Dari pengertian-pengertian di atas, Gastritis adalah inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung dan dapat dibuktikan dengan adanya infltrasi sel-sel radang.

2. Etiologi
Makan makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab penyakit sering menjadi faktor penyebab gastritis akut. Bentuk terberat dari gastritis akut disebabkan mencerna asam atau  alkali kuat, yang dapat menyebabkan mukosa menjadi ganggren atau perforasi. Penyebab lain dari gastritis akut mencakup kafein, alkohol, aspirin, reflulus empedu atau terapi radiasi dan endotoksin bakteri (masuk setelah menelan makanan yang terkontaminasi). Obat-obat lain yang mempengaruhi seperti indometasin, ibuprofen, naproksen, sulfanamida, steroid dan digitalis.Penyebab gastritis atrofik kronik dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna dari lambung atau oleh bakteri helicobacter pylori (H.pylori). Minum alkohol berlebihan dan merokok merupakan predisposisi timbulnya gastritis atrofik.

3. Klasifikasi
Ada dua jenis gastritis yaitu :
a. Gastritis superfisialis akut merupakan penyakit yang sering ditemukan, biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri. Merupakan respons mukosa lambung terhadap berbagai iritan lokal.
b. Gastritis atrofik kronik ditandai oleh atrofi progresif epitel kelenjar disertai kehilangan sel pariental dan chief cell. Gastritis kronis dapat diklasifikasikan sebagai Tipe A dan Tipe B
– Gastritis Tipe A merupakan suatu penyakit autoimun yang disebabkan oleh adanya autoantibodi terhadap sel parietal, yang menimbulkan atrofi dan infiltrasi seluler. Hal ini dihubungkan dengan penyakit otoimun seperti anemia penisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung
– Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H. pylori) mempengaruhi antrum dan pylorus (ujung bawah lambung dekat duodenum) ini dihubungkan dengan bakteri H. pylori.

4. Patofisiologi
Pada gastritis akut membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti dengan jaringan, cairan dan darah) dan mengalami erosi superficial, bagian ini mensekresi sejumlah getah
lambung, yang mengandung sangat sedikit asam tetapi banyak mukus. Ulserasi superficial dapat terjadi dan dapat menimbulkan hemoragi.

Mukosa lambung mampu memperbaiki diri sendiri setelah mengalami gastritis. Bila makanan pengiritasi tidak dimuntahkan tetapi mencapai usus, dapat mengakibatkan kolik dan diare. Obat-obatan bakteri, alkohol, garam empedu atau enzim, pankreas dapat merusak mukosa lambung mengganggu pertahanan mukosa lambung dan memungkinkan difus kembali asam dan pepsin ke dalam jaringan lambung, hal ini menimbulkan radang. Respon mukosa lambung terhadap kebanyakan penyebab iritasi tersebut adalah dengan regenerasi mukosa. Dengan iritasi yang terus-menerus, jaringan menjadi meradang dan dapat terjadi perdarahan. Gastritis juga merupakan tanda pertama dari infeksi sistemik akut.Gastritis kronik diakibatkan dari perubahan sel perineal, yang menimbulkan atrofi, infiltrasi seluler, serta keadaan mukosa terdapat bercak-bercak penebalan berwarna abu-abu kehijauan. Dengan hilangnya mukosa lambung maka sekresi getah lambung juga berkurang sehingga menimbulkan anemia, pernisiasa dan terjadi fundur atau korpus dari lambung. Gastritis atrofik boleh jadi merupakan pendahuluan untuk karsinoma lambung.

5. Tanda dan Gejala
a. Gastritis superfisialis akut
Pasien dapat mengalami ketidaknyamanan, sakit kepala, malas, mual, anoreksia, sering disertai dengan muntah dan cegukan, nyeri epigastrium, perdarahan dan hematemesis.
b. Gastritis atrofik kronik
Pasien dengan gastritis tipe A secara khusus asimtomatik kecuali untuk gejala defesiensi vitamin B12. Pada gastritis tipe, pasien mengeluh anoreksia (nafsu makan buruk), nyeri ulu hati setelah makan, kembung, rasa asam di mulut atau mual dan muntah.

6. Manajemen Medik
Gastritis akut diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari alkohol dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui mulut, diet mengandung gizi dianjurkan. Obat-obat anti muntah dapat membantu menghilangkan mual dan muntah. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral. Pemakaian penghambat A2 (seperti ranitidin) untuk mengurangi sekresi asam, sulafat atau antasida dapat mempercepat penyembuhan. Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa dengan prosedur yang dilakukan untuk hemoragik saluran gastrointestinal atas.
– Untuk menetralisis asam, digunakan antasida umum (misalnya aluminium hidroksida) untuk menetralisir alkali digunakan jus lemon encer atau cuka encer.
– Bila korosi luas atau berat, emetic dan larase dihindari karena bahaya perforasi.

Terapi pendukung mencakup intubasi, analgesik dan sedatif, antasida serta cairan intravena. Endoskopi fiberotik mungkin diperlukan pembedahan darurat untuk mengangkat gangrene atau jaringan perforasi. Gastrojejunostomi atau reseksi lambung mungkin diperlukan untuk mengatasi obstruksi pylorus.

Gastritis kronik pengobatannya bervariasi tergantung pada penyebab kelainan yang dicurigai. Alkohol dan obat-obatan yang dikenal mengiritasi mukosa lambung dihindari, dan pertama-tama mengatasi dan menghindari penyebab pada gastritis kemudian diberikan pengobatan empiris berupa antasid, dan obat-obatan prokinetik.
Gastritis kronik diatasi dengan memodifikasi diet pasien, meningkatkan istrahat, mengurangi stress dan memulai farmakoterapi. H. pylori dapat diatasi dengan antibiotic (seperti tetrasilin atau amoxicillin) dan garam bismuth (pepto-bismol). Pasien dengan gastritis A mengalami malabsorbsi vitamin B12 yang disebabkan oleh adanya antibody terhadap faktor intrinsic.

7. Komplikasi
– Gastritis superfisialis akut yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syok hemoragik
– Gastrtitis atrofik kronik yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi dan anemia karena gangguan absorpsi vitamin B12.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
 NyeriF
Gejala : nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dapat

disertai perforasi.
 Rasa ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah makan banyak dan§ hilang dengan makan

(gastritis akut).
 Nyeri epigastrum kiri sampai tengah / atau menyebar ke punggung§ terjadi 1-2 jam setelah makan

dan hilang dengan antasida (ulus gaster).
 Nyeri epigastrum kiri sampai / atau menyebar ke punggung terjadi§ kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal).
 Tak ada nyeri (varises esofegeal atau gastritis).§
Tanda : meringis, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit
 Nutrisi / CairanF
Gejala : Mual, muntah, nafsu makan berkurang, dehidrasi
Tanda : Porsi makan tidak dihabiskan, BB menurun, dan keadaan umum lemah, perubahan turgor kulit, membrane mukosa kering
 EliminasiF
Gejala : riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan gastro interitis (GI) atau masalah yang berhubungan dengan GI, misal: luka peptik / gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster. Perubahan pola defekasi / karakteristik feses.

Tanda : nyeri tekan abdomen, distensi
 Bunyi usus : sering hiperaktif selama perdarahan, hipoaktif setelah§ perdarahan.
 Karakteristik feses : diare, darah warna gelap, kecoklatan atau§ kadang-kadang merah cerah,

berbusa, bau busuk (steatorea).
 Konstipasi dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida).§
Haluaran urine : menurun, pekat.
– Istrahat / Tidur
Gejala : Kurang tidur, sering terbangun pada malam hari
Tanda : Gelisah, mata tampak merah dan sayup, serta muka pucat
–  Kecemasan
Gejala : Kurang tidur
Tanda : Gelisah, sering bertanya tentang penyakitnya

a. Klasifikasi Data
1) Data subyektif
– Klien mengatakan mual dan muntah
– Klien mengatakan kurang nafsu makan
– Klien mengatakan nyeri ulu hati
– Klien mengatakan sering terjaga pada malam hari
– Klien mengatakan semalam kurang  tidur

2) Data obyektif

– Ekspresi wajah meringis
– Nyeri tekan pada daerah epigastrium
– Keadaan umum lemah
– Porsi makan tidak dihabiskan
– Berat badan menurun
– Muka tampak pucat
– Mata tampak merah dan sayup
– Klien Nampak gelisah

b. Analisa Data

Download Analisa Datanya Klik Disini 

c. Prioritas Masalah

1. Nyeri

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3. Gangguan Pola Tidur

2. Diagnosa Keperawatan

1) Nyeri berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung, ditandai dengan :

DS       : Klien mengatakan nyeri pada ulu hati

DO      :

–          Ekspresi wajah meringis

–          Nyeri tekan pada daerah epigastrium

–          Keadaan umum lemah

2)  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat, ditandai dengan :

DS :

–          Klien mengatakan kurang nafsu makan

–          Klien mengatakan mual muntah

DO :

–          Keadaan umum lemah

–          Porsi makan tidak dihabiskan

–          BB menurun

3)  Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada bagian lambung, ditandai dengan :

DS :

–          Klien mengatakan semalam kurang tidur

–          Klien mengatakan sering terbangun pada malam hari

–          Klien mengeluh tidak bisa tidur

DO :

–          Klien tampak gelisah

–          Keadaan umum lemah

–          Muka tampak pucat

–          Mata tampak merah dan sayup

asuhan keperawatan hipertensi

Pengertian

Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg ataulebih. (Barbara Hearrison 1997).

Kriteria dan Klasifikasi Hipertensi :

WHO (World Health Organization), memberikan batasan tekanan normal adalah 140/90 mmHg. Tekanan darah sama atau di atas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Batasan ini tidak membedakan antara usia dan jenis kelamin.

NM. Kaplan (Bapak Ilmu Penyakit Dalam), memberikan batasan dengan membedakan usia dan jenis kelamin sebagai berikut :

a.    Pria, usia < 45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darah pada waktu berbaring  ³ 130/90 mmHg.

b.    Pria, usia > 45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya > 145/95 mmHg.

c.    Pada wanita tekanan darah ³ 160/95 mmHg, dikatakan hipertensi.

Ahli penyakit dalam lain, Gordon H Williams, mengklasifikasikan hipertensi sebagai berikut.

Tensi Sistolik :

a.    < 140                 = Normal

b.    140 – 159           = Normal Tinggi

c.    > 159                 = Hipertensi Sistolik Tersendiri

Tensi Diastolik :

a.    < 85       = Normal

b.    85-89     = Normal Tinggi

c.    90 – 104             = Hipertensi Ringan

d.    105 – 114 = Hipertensi Sedang

e.    > 115        = Hipertensi Berat

National Institute of Health, lembaga kesehatan nasional diAmerika mengklasifikasikan sebagai berikut :

Tekanan Sistolik :

a.    £ 119 mmHg        = Normal

b.    120 – 139 mmHg  = Pra Hipertensi

c.    140 – 159 mmHg  = Hipertensi Derajat I

d.   ³ 160 mmHg         = Hipertensi Derajat II

Tekanan Diastolik :

a.    < 79 mmHg       = Normal

b.    80 — 89 mmHg = Pra Hipertensi

c.    90 — 99 mmHg = Hipertensi Derajat I

d.    ³ 100 mmHg     = Hipertensi Derajat II

2.    Etiologi

Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.

Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:

Ø  Genetik :

Kasus hipertensi esensial 70% – 80% diturunkan dari orang tuanya. Apabila riwayat hipertensi di dapat pada kedua orang tua maka dugaan hipertensi esensial lebih besar bagi seseorang yang kedua orang tuanya menderita hipertensi ataupun pada kembar monozygot (sel telur) dan salah satunya menderita hipertensi maka orang tersebut kemungkinan besar menderita hipertensi.

Ø  Obesitas :

Pada orang yang terlalu gemuk, tekanan darahnya cenderung tinggi karena seluruh organ tubuh dipacu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan energi yang lebih besar jantung pun bekerja ekstra karena banyaknya timbunan lemak yang menyebabkan kadar lemak darah juga tinggi, sehingga tekanan darah menjadi tinggi (Suparto, 2000:322).

Ø  Stress :

Hampir semua orang didalam kehidupan mereka mengalami stress berhubungan dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat dipengaruhi karena tuntutan kerja yang terlalu banyak (bekerja terlalu keras dan sering kerja lembur).

Ø  Gender :

Wanita penderita hipertensi diakui lebih banyak dari pada laki-­laki. Tetapi wanita lebih tahan dari pada laki-laki tanpa kerusakan jantung dan pembuluh darah. Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi dari pada wanita. Pada pria hipertensi lebih banyak disebabkan oleh pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan. Sampai usia 55 tahun pria beresiko lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan wanita. Menurut Edward D. Frohlich seorang pria dewasa akan mempunyai peluang lebih besar yakni 1 diantara 5 untuk mengidap hipertensi (Lanny, Sustrani, 2004:25).

Ø  Faktor Usia :

Tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Pada umumnya penderita hipertensi adalah orang-orang yang berusia 40 tahun namun saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang berusia muda. Boedhi Darmoejo dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa 1,8% – 28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi.

Ø  Faktor Asupan Garam :

WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (sama dengan 2400 mg Natrium). (Sunita Atmatsier, 2004:64)

Ø  Kebiasaan Merokok :

Merokok dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan arteri menyempit dan lapisan menjadi tebal dan kasar. Keadaan paru-paru dan jantung mereka yang merokok tidak dapat bekerja secara efisien (Iman Soeharto, 2001:55).

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:

a.       Hipertensi Esensial (Primer).

Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, systemrennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.

b.      Hipertensi Sekunder. Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.

3.    Patofisiologi

Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tekanan perifer. Berbagai faktor yang mempengaruhi curah jantung dan tekanan perifer akan mempengaruhi tekanan darah seperti asupan garam yang tinggi, faktor genetik, stres, obesitas, jenis kelamin, usia, kebiasaan merokok. Selain curah jantung dan tahanan perifer sebenarnya tekanan darah dipengaruhi juga oleh tebalnya atrium kanan, tetapi tidak mempunyai banyak pengaruh.

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.

Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhimya akan meningkatkan tekanan darah.

Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.

4.    Manifestasi Klinis :

Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :

Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg

Sakit kepala

Epistaksis

Pusing / migraine

Rasa berat ditengkuk

Sukar tidur

Mata berkunang kunang

Lemah dan lelah

Muka pucat

Suhu tubuh rendah

5.    Komplikasi :

Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan koroner dan miokard. Pada otak sering terjadi perdarahan yang disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara (Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna.

6.    Proses perjalanan Penyakit :

Perjalanan penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi yang kadang-kadang muncul menjadi hipertensi yang persisten. Setelah periode asimtomatik yang lama, hipertensi persisten berkembang menjadi hipertensi dengan komplikasi, dimana kerusakan organ target di aorta dan arteri kecil, jantung, ginjal, retina dan susunan saraf pusat. Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur 10-30 tahun (dengan meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi hipertensi dini pada pasien umur 20-40 tahun (dimana tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur 30-50 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 40-60 tahun.

7.    Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium :

–       Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.

–       BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.

–       Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.

–       Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM.

–       CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.

–       EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

–       IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan ginjal.

–       Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran jantung.

Penatalaksanaan :

Ø Penatalaksanaan Non Farmakologis :

1.    Diet pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.

2.    Aktivitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,bersepeda atau berenang.

Ø Penatalaksanaan Farmakologis :

Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu :

1.    Mempunyai efektivitas yang tinggi.

2.    Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.

3.    Memungkinkan penggunaan obat secara oral.

4.    Tidak menimbulakn intoleransi.

5.    Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien

6.    Memungkinkan penggunaan jangka panjang.

7.    Golongan obat – obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium, golongan penghambat konversi rennin angitensin.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipertensi

1.    Pengkajian

–       Aktivitas/ Istirahat

Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.

Tanda : Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.

–       Sirkulasi

Gejala : Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.

Tanda : Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/bertunda.

–       Integritas Ego

Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.

Tanda : Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.

–       Eliminasi

Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayatpenyakit ginjal pada masa yang lalu).

–       Makanan/cairan

Gejala : Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic.

Tanda : Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.

–       Neurosensori

Genjala : Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala, subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontansetelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis).

Tanda : Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,  efek, proses piker, penurunan kekuatan genggaman tangan.

–       Nyeri/ ketidak nyaman

Gejala : Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung), sakit kepala.

–       Pernafasan

Gejala : Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, ortopnea, dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputu dan riwayat merokok.

Tanda : Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi nafas tambahan (krakties/mengi) dan sianosis.

–       Keamanan

Gejala : Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.

2.    Diagnosa Keperawatan yang Muncul

Ø Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.

Ø Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.

Ø Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.

Ø Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.

3.    Intervensi

Diagnosa Keperawatan 1 :

Ø Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.

Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard.

Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung, mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima, memperlihatkan normal dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.

Intervensi :

–       Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat.

–       Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.

–       Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas.

–       Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler.

–       Catat edema umum.

–       Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.

–       Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi.

–       Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan.

–       Lakukan tindakan yang nyaman sepert pijatan punggung dan leher.

–       Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan.

–       Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.

–       Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi

–       Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi.

Diagnosa Keperawatan 2 :

Ø Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.

Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi.

Kriteria Hasil : Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan, melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.

Intervensi :

–       Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter : frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat.

–       catat peningkatanTD, dipsnea, atau nyeri dada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress, aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja/ jantung).

–       Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian padaaktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting untuk memajukan tingkat aktivitas individual).

–       Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsioksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatantiba-tiba pada kerja jantung).

–       Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen).

–       Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas. (Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas danmencegah kelemahan).

Diagnosa Keperawatan 3 :

Ø Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.

Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat.

Kriteria Hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.

Intervensi :

–       Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan.

–       Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan.

–       Batasi aktivitas.

–       Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin.

–       Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan.

–       Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi.

Diagnosa keperawatan 4 :

Ø Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.

Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu.

Kriteria Hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.

Intervensi :

–       Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur.

–       Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia.

–       Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan.

–       Amati adanya hipotensi mendadak.

–       Ukur masukan dan pengeluaran.

–       Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan.

–       Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000
Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001
Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003
Smith Tom. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995
Semple Peter. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta, Penerbit Arcan, 1996
Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002
Marvyn, Leonard. Hipertensi : Pengendalian lewat vitamin, gizi dan diet, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995
Tucker, S.M, et all . Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis dan evaluasi , Edisi V, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1998

 

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA

A. PENGERTIAN

Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang terdapat konsolidasi dan terjadi pengisian rongga alveoli oleh eksudat yang dapat disebabkan oleh bakteri, jamur dan benda-benda asing.(Muttaqin,Arif:2008).

 

B. ETIOLOGI

Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri (+) gram, Streptococcus Pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri  Staphylococcus Aureus adalah streptokokus beta-hemolitikus grup A yang juga sering menyebabkan pneumonia,demikian juga pseudomonas aeroginosa. Pneumonia lain disebabkan oleh virus misalnya influenza. Pneumonia mikoplasma, Suatu pneumonia yang relatif  sering dijumpai yang disebabkan oleh suatu organisme yang berdasarkan beberapa aspeknya berada diantara bakteri dan virus.(Asih&Effendy:2004).

 

C.PATOFISIOLOGI

Dari Berbagai macam penyebab pneumonia,seperti virus, jamur, dan riketsia, pneumonitis hipersensitive dapat menyebabkan penyakit primer.Pneumonia dapat terjadi akibat aspirasi, yang paling jelas adalah pada klien yang diintubasi, kolonisasi trakhea dan terjadi mikroaspirasi sekresi saluran pernapasan atas yang terinfeksi, namun tidak semua kolonisasi akan mengakibatkan pneumonia. (Asih&Effendy:2004)

            Menurut Asih &Effendy (2004),Mikroorganisme dapat mencapai paru melaluhi jalur, yaitu:

1). Ketika individu terinfeksi batuk, bersin atau berbicara , mikroorganisme dilepaskan kedalam udara dan terhirup oleh orang lain.

2). Mikroorganisme dapat juga terinspirasi dengan aerosol (gas nebulasi) dari peralatan terapi pernapasan yang terkontaminasi.

3). Pada individu yang sakit atau higiene giginya buruk, flora normal orofaring dapat menjadi patogenik.

4). Staphilococcus dan baktri gram (-) negatif dapat menyebar melaluhi sirkulasi dari infeksi sistemis, sepsis atau jarum obat IV yang terkontaminasi.

D. STADIUM PNEUMONIA BAKTERIALIS

Untuk pneumonia, terdapat empat macam stadium penyakit, diantara lain :

1). Stadium I disebut Hipetermia

Mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung didaerah paru yang terinfeksi, Hali ini ditandai oleh peningkatan aliran darah dan permiabilitas kapiler ditempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator paeradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan sel cedera.

 

2). Stadium II disebut Hepatisasi  Merah

Terjadi sewaktu alveolus terisi sel-sel darah merah, eksudat, dan fibrin, stadium yang dihasilkan oleh pejamu sebagai bagian dari reaksi paradangan.

 

3). Stadium III disebut Hepatisasi Kelabu

Terjadi sewaktu sel-sel darah putih berkolonisasi bagian paru yang terinfeksi.

 

4). Stadium IV disebut Resolusi

Terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda:sisa-sisa sel, fibrin dan bakteri telah dicerna:dan makrofag, sel pembersih pada reaksi paradangan ,mendominasi.

 

 

E. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Asih &Effendy (2004),gejala-gejala pneumonia serupa untuk semua jenis pneumonia,tetapi terutama mencolok pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri.Gejala-gejala mencakup :

1). Demam dan mengiggil akibat proses peradangan.

2). Batuk yang sering produktif dan purulen

3). Sputum berwarna merah karat (untuk streptococcus pneumoniae),merah muda (untuk staphylococcus aureus),atau kehijauan dengan bau khas (Pseudomonas Aeruginosa).

4). Krekel (bunyi paru tambahan)

5). Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan edema.

6). Biasanya sering terjadi respon subyektif dispnu.

7).  Timbul tanda-tanda sianosis

8). Ventilasi mungkin berkurang akibat panimbunan mukus,yang dapat menyebabkan atelektasis absorpsi.

9). Hemoptisis, batuk darah, dapat terjadi akibat cedera toksin langsung pada kapiler , atau akibat reaksi paradangan yang menyebabkan kerusakan kapiler.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTI

  • Pemeriksaan Laboratorium

-Jumlah Leukosit    diatas 15.000-40.000/mm3.

-Laju Endapan Darah    hingga 100 mm/jam

-Adanya peningkatan produksi Sputum

-Pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) menunjukkan hipoksemia sebab terdapat ketidakseimbangan ventilasi-perfusi didaerah pneumonia.

  • Pemeriksaan Radiologis

Foto Thoraks posterior-anterior dan lateral untuk melihat keberadaan konsolidasi retrokardial sehingga lebih mudah untuk menentukan lobus mana yang terkena.

(Arif, Mutaqin: 2008)

 

G. PENATALAKSANAAN MEDIS

 

            Penatalaksanaan untuk pneumonia tergantung pada penyebab,sesuai dengan yang ditemukan oleh pemeriksaan sputum pengobatan dan mencakup,antara lain :

1). Antibiotik, terutama untuk pneumonia bakterialis.Pneumonia lain juga dapat diobati dengan antibiotik untuk mengurangi resiko infeksi bakteri sekunder.

2). Istirahat

3). Hidrasi untuk membantu mengencerkan sekresi

4). Teknik-Teknik bernapas dalam untuk meningkatkan ventilasi alveolus dan mengurangi resiko atlektasis

5). Juga diberikan obat-obat lain yang spesifik untuk mikro-organisme yang diidentifikasikan dari biakan sputum.

 

 

 

 

 

 

 

A. PENGKAJIAN

  • PENGKAJIAN DATA BIOLOGIS

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam  proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono,1994:10).

 

Pengkajian Klien dengan  Pneumonia  (Doengoes,1999) meliputi :

 

A). Aktivitas

Gejala              : Kelemahan, kelelahan dan isomia

Tanda              : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas

 

B). Sirkulasi

Gejala              : Riwayat adanya /GJK kronik

Tanda              : Takikardi, penampilan kemerahan atau pucat

 

C). Integritas Ego

Gejala              : Banyaknya Stressor,Masalah Finansial

 

D). Makanan/Cairan

Gejala              : Kehilangan nafsu makan,Mual/muntah dan adanya Riwayat DM

Tanda              : Distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor Kulit buruk dan penampilan kakeksia (malnutrisi)

 

E). NeuroSensori

Gejala              : Sakit Kepala daerah Frontal (Influenza)

Tanda              : Perubahan Mental (Bingung, Somnolen)

 

F). Nyeri/Kenyamanan

Gejala              : Sakit Kepala, nyeri dada (pleuritik),meningkat oleh batuk,nyeri

                         Dada Substernal (Influenza), mialgia, dan atralgia

Tanda              : Melindungi area yang sakit (Penderita biasanya tidur pada sisi

                        Yang sakit untuk membatasi pergerakan)

G). Pernapasan

Gejala              : Riwayat adanya/ISK kronis,PPOM,Merokok Sigaret.

                         Takipnea, dispnea progresif, Pernapasan dangkal, penggunaan otot

                        Aksesori, pelebaran nasal.

Tanda              : Sputum :Merah muda, berkarat atau purulen

                        Perkusi: pekak diatas area yang konsolidasi

                        Fremitus: taktil dan vokal terhadap meningkat dan konsolidasi

                        Gesekan Friksi pleura

                        Bunyi Napas: menurun atau tidak ada area yang terlibat atau napas

                        Brokial

                        Warna: Pucat atau sianosis bibir/kuku

H). Keamanan

Gejala              : Riwayat gangguan sistem imun, misal AIDS, Penggunaan steroid

                        Atau Khemoterapi, Ketidakmampuan Umum Demam

                        (Misal:38,5-39,6 C)

Tanda              : Berkeringat ,mengiggil berulang,gemetar

                        Kemerahan mungkin pada kasus rubeola atau varisela

I). Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala              : Riwayat mengalami pembedahan:penggunaan Alkohol Kronis

Pertimbangan  : DRG menunjukkan rerata lama dirawat:6,8 hari.

Rencana Pemulangan: Bantuan dengan perawatan diri.

                                    Oksigen mungkin diperlukan, bila kondisi pencetus

                                      

 

Misalnya Sebuah Contoh Kasus Pneumonia Pada Dewasa

ANALISA DATA

SYMPTOM

ETIOLOGI

PROBLEM

Ds :1. Batuk produktif

      2. Sesak nafas

Peningkatan Produksi sputum

Ketidakefektifan

Bersihan jalan napas

Do : Warna kulit Pucat/Sianosis

Ds :Sesak napas

Penurunan jaringan efektif paru

Gangguan Pertukaran Gas

Do :1.Hiposekmia

       2.Warna kulit pucat

Ds : Demam

Reaksi sistematis

Bakterimia/Verimia

Hipertermi

Do :1. Menggigil

       2. Berkeringat

     3.Suhu (38,5-39,6 C)

 

  • PEMERIKSAAN UMUM

ANAMNESIS

Keluhan Utama klien dengan pnemonia untuk meminta pertolongan kesehatan adalah sesak napas, batuk, dan demam

RIWAYAT PENYAKIT SAAT INI

Pada awalnya klien dengan batuk purulen dengan mukus purulen kekuning-kuningan,dan mengeluh mengalami demam tinggi dan menggigil. dan adanya keluhan nyeri dada pleuritis, sesak napas, Takipnea, dan lemas

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Apakah klien pernah mengalami gejala penyakit ISPA dengan gejala luka tenggorok, bersin.

  • PEMERIKSAAN FISIK

Pada Klien dengan pneumonia Pengkajian yang didapat meliputi:

Inspeksi           : Didapatkan adanya batuk produktif disertai adanya peningkatan  produksi sputum.

Palpasi             : Getaran dinding thoraks anterior/ekskrusi pernapasan biasanya normal dan seimbang bagian kiri dan kanan.

Perkusi            : Didapatkan bunyi resonan atau sonor seluruh lapang paru.

Aukultrasi       : Didapatkan bunyi napas melemah dan bunyi napas tambahan ronki basah pada sisi yang sakit.

 

 

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

 

1). Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum

2). Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan penurunan jaringan efektif paru

3). Hipertermi berhubungan dengan reaksi sistematis:Bakterimia/Viremia.

 

 

C). INTERVENSI  DAN IMPLEMENTASI

Intervensi adalah Penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono,1994:20)

Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi,1995:40).

Menurut Doengoes,1999 Intrevensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada klien dengan pneumonia,meliputi :

 

 

1). Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum.

 

            INTERVENSI

RASIONAL

1. Monitor frekuensi/Kedalaman pernapasan dan gerakan pernapasan

 

 

 

 

2). Bantu klien latihan napas sering.

Tunjukkan/Bantu klien mempelajari melakukan batuk,misal:menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.

3). Penghisapan sesuai indikasi

 

 

 

 

4). Berikan Cairan sedikitnya 2500 ml (Kecuali Kontraindikasi). Berikan air hangat daripada air dingin.

 

 

5). Kolaborasi untuk pemberian cairan tambahan,misal:IV , Oksigen humidifikasi dan ruangan humidifikasi

1. Takipnae, pernapasan dangkal dan gerakan dada tidak simetris sering terjadi karena ketidak nyamanan gerakan dinding dada dan/atau cairan paru

 

2). Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih kecil.

 

 

3). Merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada klien yang tidak mampu melakukan karena batuk tidak efektif atau Penurunan tingkat kesadaran.

4).Cairan (Khususnya yang hangat memobilisasi dan mengeluarkan sekret).

 

 

5). Cairan diperlukan untuk mengganti kehilangan (termasuk yang tidak tampak)dan mobilisasi sekret

 

 

2 ). Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan penurunan jaringan efektif paru

 

  INTERVENSI

RASIONAL

1).Monitor frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernapas

 

2).Observasi warna kulit,membran mukosa, dan kuku, catat adanya sianosis perifer (kuku) atau  sianosis sentral (Subkumoral).

 

 

3).Kolaborasi dengan team medis untuk terapi Oksigen dengan benar,misal :dengan nasal prong ,masker, masker venturi

1). Manisfestasi distres pernapasan tergantung pada/indikasi derajat ketelibatan paru atau status kesehatan

2). Sianosis kuku merupakan vasokintriksi atau respon tubuh terhadap demam/mengiggil.Sianosis daun telinga, membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hiposekmia sistemik

3). Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 diatas 60 mmHg.Oksigen diberikan dengan metoda yang memberikan pengiriman tepat dalam batas toleransi

 

3). Hipertermi yang  berhubungan dengan reaksi Sistematis: Bakterimia/Viremia.

 

 INTERVENSI

RASIONAL

1).Kaji saat timbulnya demam

2).Berikan Kompres Dingin

 

3).Berikan kebutuhan cairan ekstra

 

 

 

4).Berikan cairan intravena RL 0,5 dan pemberian antipiretik

1).Mengindentifikasi pola demam

2).Konduksi suhu membantu  menurunkan suhu tubuh.

3).Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh meningkat, sehingga perlu diimbangi dengan cairan yang banyak.

4).Pemberian cairan sangat penting bagi klien dengan suhu tinggi.

 

D. EVALUASI KEPERAWATAN

Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker,Cristine.2001).

Evaluasi yang Diharapkan pada Klien dengan pneumonia adalah :

1). Menunjukkan pola napas efektif dengan ferkuensi dan kedalaman rentang normal dan paru jelas/bersih.

2). Menunjukkan ventilasi adekuat/oksigenasi dalam rentang normal

3). Menunjukkan Suhu Diatas normal 37 0C.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Muttaqin, Arif.(2008). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Penerbit, Salemba Medika
  • Doengoes, Marlyn E.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3.Jakarta:Penerbit,EGC
  • Asih & Effendy.(2004). Keperawatan Medikal Bedah Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Penerbit EGC

 

Tindakan Perawat Dalam Mengatur Posisi Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan, teknik Napas dalam, dan Melatih Batuk Efektif”

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Obat anastesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernafasan sehingga perawat perlu waspada terhadap pernafasan yang dangkaldan lambat serta batuk yang lemah. Perawat mengkaji frekuensi, irama, kedalaman ventilasi pernafasan, kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi nafas dan membrane mukosa. Apabila pernafasan dangkal letakan tangan perawat diatas muka/mulut klien sehingga perawat dapat merasakan udara yang keluar. Salah satu kekhawatiran perawat terbesar adalah obstruksi jalan nafas akibat aspirasi munta, akumulasi sekresi mukosa difaring atau bengkaknya spasme laring (odom, 1993).

1.1.     Rumusan Masalah

      Apa saja tindakan perawat dalam mengatur posisi pasien dengan gangguan sistem pernapasan ?

      Bagaimana teknik napas dalam pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan ?

      Bagaimana cara melatih batuk efektif pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan ?

      Apa saja indikasi dan kontra indikasi dari masing – masing teknik tersebut /

1.2.    Tujuan Masalah

      Mahasiswa mengetahui tentang tindakan dalam mengatur posisi pasien dengan gangguan sistem pernapasan.

      Mahasiswa mengetahui tentang teknik napas dalam yang dilakukan oleh klien.

      Mahasiswa mengetahui tentang cara melatih batuk efektif yang dilakukan oleh pasien.

      Mahasiswa mampu mengetahui tentang indikasi dan kontra indikasi yang dilakukan oleh pasien dari masing – masing teknik.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.   Tindakan Perawat Dalam Mengatur Posisi Pasien Dengan Gangguan Sistem pernapasan

      Fisioterapi Dada

Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik, sinar, air, panas, dingin, massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan.

Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret, memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun, penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage, perkusi, dan vibrasi. Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung, status asmatikus, renjatan dan perdarahan masif, sedangkan kontra indikasi relatif seperti infeksi paru berat, patah tulang iga atau luka baru bekas operasi, tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang.

Tujuan: untuk membuang sekresi bronkial, memperbaiki ventilasi, dan meningkatkan efisiensi otot-otot pernapasan.

ü  Indikasi:

–          Terdapat penumpukan sekret pada saluran napas yang dibuktikan dengan pengkajian fisik, X Ray, dan data klinis.

–          Sulit mengeluarkan atau membatukkan sekresi yang terdapat pada saluran pernapasan.

 

 

ü  Kontra indikasi:

–          Hemoptisis

–           Penyakit jantung

–          Serangan Asma Akut

–          Deformitas struktur dinding dada dan tulang belakang.

–          Nyeri meningkat.

–          Kepala pening

–          Kelemahan.

    Postural Drainase

Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi.. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating.

ü  Indikasi untuk Postural Drainase :

  1. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada :

–          Pasien yang memakai ventilasi

–          Pasien yang melakukan tirah baring yang lama

–          Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis

–          Pasien dengan batuk yang tidak efektif .

  1. Mobilisasi sekret yang tertahan :

–          Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh secret

–          Pasien dengan abses paru

–          Pasien dengan pneumonia

–          Pasien pre dan post operatif

–          Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk

 

ü  Kontra indikasi untuk postural drainase :

–          Tension pneumotoraks

–          Hemoptisis

–          Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark miokard akutrd infark dan aritmia.

–          Edema paru

–          Efusi pleura yang luas

ü  Persiapan pasien untuk postural drainase.

–           Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang.

–          Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap.

–          Periksa nadi dan tekanan darah.

–          Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret.

ü  Cara melakukan pengobatan :

–          Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase.

–          Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari, bila dilakukan pada beberapa posisi tidak lebih dari 40 menit, tiap satu posisi 3 – 10 menit.

–          Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan.

ü  Penilaian hasil pengobatan :

–          Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan.

–          Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama.

–          Apakah batuk telah produktif, apakah sekret sangat encer atau kental.

–          Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah, merasa enakan, sakit.

–          Bagaimana efek yang nampak pada vital sign, adakah temperatur dan nadi tekanan darah.

–          Apakah foto toraks ada perbaikan.

ü  Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan :

–          Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam.

–          Suara pernafasan normal atau relative jelas.

–          Foto toraks relative jelas.

–          Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk.

ü  Alat dan bahan :

–          Bantal 2-3

–          Tisu wajah

–          Segelas air hangat

–          Masker

–          Sputum pot

ü  Prosedur kerja :

–          Jelaskan prosedur

–          Kaji area paru, data klinis, foto x-ray

–          Cuci tangan

–          Pakai masker

–          Dekatkan sputum pot

–          Berikan minum air hangat

–          Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage

–          Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating

–          Berikan tisu untuk membersihkan sputum

–          Minta pasien untuk duduk, nafas dalam dan batuk efektif

–          Evaluasi respon pasien (pola nafas, sputum: warna, volume, suara pernafasan)

–          Cuci tangan

–          Dokumentasi (jam, hari, tanggal, respon pasien)

–          Jika sputum masih belum bisa keluar, maka prosedur dapat diulangi kembali dengan

memperhatikan kondisi pasien

 

 

 

 

 

    Clapping / Perkusi

Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk kedua tangan deperti mangkok.

ü  lndikasi untuk perkusi :

Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase, jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan :

–          Patah tulang rusuk

–          Emfisema subkutan daerah leher dan dada

–          Skin graf yang baru

–          Luka bakar, infeksi kulit

–          Emboli paru

–          Pneumotoraks tension yang tidak diobati

ü  Alat dan bahan : Handuk kecil

ü  Prosedur kerja :

–          Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan

–          Anjurkan pasien untuk rileks, napas dalam dengan Purse lips breathing

–          Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok

    Vibrating

Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret.

Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar.

ü  Kontra indikasinya adalah :  patah tulang dan hemoptisis.

ü  Prosedur kerja :

–          Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar

–          Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing

–          Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi

–          Istirahatkan pasien

–          Ulangi vibrasi hingga 3X, minta pasien untuk batuk

 

  1. 2.  Teknik Napas Dalam
  2. a.      PENGERTIAN

Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan, Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer & Bare, 2002).

  1. b.      TUJUAN

Smeltzer & Bare (2002) menyatakan bahwa tujuan teknik relaksasi napas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi stress baik stress fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.

 

  1. c.       PROSEDUR TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM

Menurut Priharjo (2003), bentuk pernapasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernapasan diafragma yang mengacu pada pendataran kubah diagfragma selama inspirasi yang mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi. Adapun langkah-langkah teknik relaksasi napas dalam adalah sebagai berikut :

  • Ciptakan lingkungan yang tenang
  • Usahakan tetap rileks dan tenang
  • Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1,2,3
  • Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas dan bawah rileks
  • Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
  • Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan
  • Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks
  • Usahakan agar tetap konsentrasi / mata sambil terpejam
  • Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri
  • Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang
  • Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali.
  • Bila nyeri menjadi hebat, seseorang dapat bernafas secara dangkal dan cepat.

 

  1. d.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM TERHADAP PENURUNAN NYERI

Teknik relaksasi napas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu :

1)      Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemic.

2)      Teknik relaksasi napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoiod endogen yaitu endorphin dan enkefalin (Smeltzer & Bare, 2002)

3)      Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat

Relaksasi melibatkan sistem otot dan respirasi dan tidak membutuhkan alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu. Prinsip yang mendasari penurunan nyeri oleh teknik relaksasi terletak pada fisiologi sistem syaraf otonom yang merupakan bagian dari sistem syaraf perifer yang mempertahankan homeostatis lingkungan internal individu. Pada saat terjadi pelepasan mediator kimia seperti bradikinin, prostaglandin dan substansi, akan merangsang syaraf simpatis sehingga menyebabkan vasokostriksi yang akhirnya meningkatkan tonus otot yang menimbulkan berbagai efek seperti spasme otot yang akhirnya menekan pembuluh darah, mengurangi aliran darah dan meningkatkan kecepatan metabolisme otot yang menimbulkan pengiriman impuls nyeri dari medulla spinalis ke otak dan dipersepsikan sebagai nyeri.

  1. 3.  Melatih Batuk Efektif
  2. a.      PENGERTIAN

Batuk efektif adalah latihan batuk untuk mengeluarkan sekret.

  1. b.      INDIKASI :

1)    Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada :
– Pasien yang memakai ventilasi
– Pasien yang melakukan tirah baring yang lama
– Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis
– Pasien dengan batuk yang tidak efektif .

2)    Mobilisasi sekret yang tertahan :
– Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret
– Pasien dengan abses paru
– Pasien dengan pneumonia

–          Pasien pre dan post operatif
-Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk

  1. c.       KONTRA INDIKASI
  • Tension pneumotoraks
  • Hemoptisis
  • Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark miokard akutrd infark dan aritmia.
  • Edema paru
  • Efusi pleura yang luas
  1. d.      ALAT DAN BAHAN
  • Sputum pot
  • Lisol 2-3%
  • Handuk pengalas
  • Peniti
  • Bantal jika di perlukan
  • Tissu
  • Bengkok
  1. e.       LANGKAH PROSEDUR

–          Setelah dilakukan pengobatan bronkodilator (jika di resepkan),tarik nafas dalam lewat hidung dan tarik nafas untuk beberapa detik.

–          Batukkan dua kali,batuk pertama untuk melepas mukus dan batuk ke dua untuk mengeluarkan sekret. Bila pasien merasa nyeri dada,pada saat batuk tekan dada dengan bantal. Tampung sekret pada sputum pot yang berisi lisol.

–          Untuk batuk menghembus,sedikit maju ke depan dan ekspirasi kuat dengan suara “hembusan”.Teknik ini menjaga jalan nafas terbuka ketika sekresi bergerak ke atas dan keluar dari paru.

–          Inspirasi dengan nafas pendek cepat secara bergantian (menghirup) untuk mencegah mukus bergerak kembali ke jalan nafas yang sempit.

–          Istirahat.Hindari penggunaan waktu yang lama selama batuk karena dapat menyebabkan fatiq (kelelahan) dan hypoxia.

Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan anestesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teransetesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut.

Batuk efektif : merupakan suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara maksimal.

  1. f.       TUJUAN BATUK EFEKTIF

–          Merangsang terbukanya system kolateral.

–          Meningkatkan distribusi ventilasi.

–          Meningkatkan volume paru

–          Memfasilitasi pembersihan saluran napas ( Jenkins, 1996 )

Batuk Yang tidak efektif menyebabkan :

–          Kolaps saluran nafas

–          Ruptur dinding alveoli

–          Pneumothorak

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN

Bernafas dengan teknik yang benar yaitu dengan menarik nafas panjang dan dalam, maka organ-organ dalam tubuh Anda untuk bekerja secara optimal. Menarik nafas dalam-dalam adalah hal penting bagi kesehatan fisik maupun emosi. Tetapi, karena bernafas cenderung dianggap sebuah refleks menyebabkan aktivitas menghirup nafas secara dalam sering dilupakan.

  1. B.     SARAN

Dengan adanya makalah ini, diharapkan pembaca bis amemahami tentang tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam mengatur posisi klien dengan gangguan sistem pernapasan, teknik napas dalam serta cara melatih batuk kering.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan medikal bedah. Edisi 8 Vol.1. Alih Bahasa : Agung waluyo. Jakarta. EGC.

Priharjo, R. (2003). Perawatan nyeri. Jakarta. EGC.

http://fundamental-of-nursing.blogspot.com/

Perry, Peterson, Potter. 2005. Buku Saku Ketrampilan Dan Prosedur Dasar. Edisi5.Alih Bahasa: Rosidah, Monika Ester. Jakarta: EGC.

Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Alih Bahasa: Agung Waluyo,dkk. Jakarta: EGC.

Kusyati Eni Ns, dkk. 2006. Ketrampilan Dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar. Jakarta: EGC

 

 

 

CONTOH KERANGKA KARANGAN

Kerangka Karangan

14 Nov

Kerangka karangan adalah rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan ditulis, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur. Kerangka karangan dibuat untuk mempermudah penulisan agar tetap terarah dan tidak keluar dari topik atau tema yang dituju. Pembuatan kerangka karangan ini sangat penting, terutama bagi penulis pemula, agar tulisan tidak kaku dan penulis tidak bingung dalam melanjutkan tulisannya.

Manfaat Kerangka Karangan

  1. Untuk menyusun karangan secara teratur.
  2. Mempermudah pembahasan tulisan.
  3. Menghindari isi tulisan keluar dari tujuan awal.
  4. Menghindari penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih.
  5. Memudahkan penulis mencari materi tambahan.
  6. Menjamin penulis bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
  7. Memudahkan penulis mencapai klimaks yang berbeda-beda.

Dengan adanya kerangka karangan, penulis bisa langsung menyusun tulisannya sesuai butir-butir bahasan yang ada dalam kerangka karangannya.

Kerangka karangan merupakan miniatur dari sebuah karangan. Dalam bentuk ini, karangan tersebut dapat diteliti, dianalisi, dan dipertimbangkan secara menyeluruh.

Syarat-syarat Kerangka Karangan yang Baik

  1. Pengungkapan maksudnya harus jelas.
  2. Tiap unit dalam kerangka karangan hanya mengandung satu gagasan.
  3. Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis.
  4. Harus menggunakan pasangan simbol yang konsisten.

Macam-macam Susunan Kerangka Karangan

  • Alamiah

Suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan nyata di alam. Oleh karena itu, susunan alamiah dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu :

1. Berdasar urutan ruang.

Topik yang diuraikan berkaitan erat dengan ruang / tempat : dari kiri ke kanan, dari timur ke barat, urutan geografis.

Contoh

Topik : Banjir.

Tujuan : Untuk mengetahui lokasi banjir.

Tema : Beberapa lokasi banjir di dunia.

I. BANJIR YANG TERJADI DI LUAR INDONESIA

A. Banjir di Asia

1. Banjir di China.

2. Banjir di Taiwan.

B. Banjir di Eropa

1. Banjir di Belanda.

2. Banjir di Inggris.

II. BANJIR YANG TERJADI DI INDONESIA.

A. Banjir di Pulau Jawa

1. Banjir di DKI Jakarta.

2. Banjir di Pacitan.

B. Banjir di luar Pulau Jawa

1. Banjir di Papua Barat.

2. Banjir di Padang.

2. Urutan waktu.

Bahan-bahan ditulis berdasar tahap kejadian. Setipa peristiwa hanya menjadi penting dalam hubungannya dengan yang lain.

Contoh

Topik: masyarakat

Tujuan: untuk mengetahui perkembangan masyarakat

Tema: Perkembangan masyarakat  dari jaman ke jaman.

I. MASYARAKAT PEMBURU DAN PERAMU

A. Masyarakat Pemburu dan Peramu di Dunia

B. Masyarakat Pemburu dan Peramu di Indonesia

1. Di Irian

2. Di Kepulauan Mentawai

II. MASYARAKAT PETANI DAN PETERNAK

A. Masyarakat Petani  dan Peramu di Dunia

B. Masyarakat Petani dan Peternak di Indonesia

1. Masyarakat petani di Pulau Jawa

2. Masyarakat peternak di Nusa TenggaraTimur

III. MASYARAKAT INDUSTRI

A. Masyarakat Industri Modern

B. Masyarakat Industri Canggih

3. Urutan topik yang ada.

Bagian-bagian diterangkan tanpa memasalahkan mana yang penting. Misal, laporan keuangan : pemasukan dan pengeluaran, bagian-bagian dalam sebuah lembaga, dll.

Contoh

Topik: Hutan

Tujuan: Untuk mengetahui pemanfaatan hutan

Tema: Pemanfaatan hutan.

I. MANFAAT HUTAN SECARA ALAMIAH

A. Mencegah Erosi

B. Mengurangi Polusi

1. Polusi Udara

2. Polusi Suara

C. Sebagai Hutan Lindung

II. MANFAAT HUTAN SECARA EKONOMIS

A. Hutan Tanaman Industri

B. Hutan untuk Rekreasi

C. Hutan untuk Penelitian

Untuk pola berdasar urutan topik yang ada, penulis tidak perlu

memperhatikan  mana yang akan didahulukan.

  • Logis

Merupakan unit-unit karangan berurutan sesuai pendekatan logika / pola pikir manusia. Untuk susunan logis, dibagi berdasarkan :

1. Klimaks-Anti klimaks.

Anggapan bahwa posisi tertentu dari sebuah rangkaian merupakan posisi yang paling penting. Terdiri dari dua :

1. Urutan klimaks = yang penting di akhir.

2. Urutan antiklimaks = yang penting di awal.

Model ini hanya efektif untuk menguraikan sesuatu yang berhubungan dengan hirarki misalnya urutan pemerintahan.

Contoh

Topik: Banjir

Tujuan: Untuk mengetahui akibat banjir

Tema: Banjir dan akibatnya

I. MUSIM PENGHUJAN MULAI

II.PENGGUNDULAN HUTAN

III. EROSI DI MANA-MANA

IV. PENDANGKALAN SUNGAI

V. MUSIBAH BANJIR

VI. PENDERITAAN MASYARAKAT

2. Umum-Khusus.

a. Umum  – khusus : Hal besar diperinci ke  hal- hal yang lebih kecil atau bagian-bagiannya.

Misalnya uraian tentang Indonesia, lalu  suku-suku dan kebudayaannya.

b. Khusus  – Umum : Sebaliknya.

Contoh

Topik: Pendidikan

Tujuan: Untuk mengetahui pendidikan di masyarakat

Tema: Pendidikan di masyarakat

I. PENDIDIKAN DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT SECARA UMUM

II. PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT PERKOTAAN

III. PENDIDIKAN DI MASYARAKAT T PEDESAAN

IV. PENDIDIKAN PADA GENERASI MUDA

3. Sebab-Akibat.

a. Sebab ke  akibat : masalah utama sebagai sebab, diikuti perincian akan akibat-akibat yang mungkin  terjadi.

Misal ; penulisan sejarah, berbagai  persoalan sosial : kerusakan hutan, perubahan  cuaca global.

b. Akibat ke  sebab : masalah tertentu sebagai akibat, diikuti perincian sebab-sebab yang  menimbulkannya.

Misal : Krisis multidimensi di  Indonesia.

Contoh

Topik:  Premanisme di Jakarta

I. PERTUMBUHAN EKONOMI YANG TERSENDAT

II. INDUSTRI TUTUP KARENA BAHAN BAKAR LANGKA

III. LAPANGAN KERJA MENCIUT

IV. MENCARI UANG DENGAN CARA MUDAH

4. Proses.

Dimulai  dari penyajian masalah sampai penulisan kesimpulan  umum atau solusi. Contoh: Banjir di Jakarta,  penyebabnya dan alternatif penyelesaiannya.

Sistem Penomoran pada Kerangka Karangan

Ada dua cara :

1. Sistem Campuran Huruf dan Angka.

I  . Angka Romawi Besar untuk BAB

A. Huruf Romawi Besar untuk Sub Bab

1. Angka Arab besar

a. Huruf Romawi Kecil

i. Angka Romawi Kecil

(a) Huruf Romawi Kecil Berkurung

(1) Angka Arab Berkurung

Contoh

I. Pendahuluan

II. Tingkat Ekonomi dan Fertilitas di Indonesia

A. Bukti-Bukti dari Sensus 2000

B. Bukti-Bukti dari Survei Fertilitas-Mortalitas 1995

C. Studi Kasus di Lampung

1. Pengukuran Fertilitas

2. Penyebab Perbedaan fertilitas

a. Retaknya Perkawinan

b. Abstinensi Setelah Melahirkan

c. Perbedaan Fekunditas

III. Kesimpulan

2. Sistem Angka Arab (dengan digit).

1.

1.1

1.1.1

1.1.1.1

2.

2.1

2.1.1

dst.

Contoh

1. Pendahuluan

2. Tingkat Ekonomi dan Fertilitas di Indonesia

2.1. Bukti-Bukti dari Sensus 2000

2.2. Bukti-Bukti dari Survei Fertilitas-Mortalitas 1995

2.3. Studi Kasus di Lampung

2.3.1. Pengukuran Fertilitas

2.3.2. Penyebab Perbedaan fertilitas

2.3.2.1. Retaknya Perkawinan

2.3.2.2. Abstinensi Setelah Melahirkan

2.3.2.3. Perbedaan Fekunditas

3. Kesimpulan

 

Sumber :

 

 

 

 

 

 

 

 

Topik: EROTIKA BUSANA

I . Pembuka: mengapa manusia mengenakan busana?

II. Fungsi busana I
( 1 ). Asumsi: Fungsionalisme
( 2 ). Fungsi proteksi
( 3 ). Kritik atas fungsi proteksi

III. Fungsi busana II
( 1 ). Asumsi: mitos penciptaan manusia
( 2 ). Fungsi kesopanan (modesty)
( 3 ). Kritik atas fungsi kesopanan

IV. Fungsi busana III
( 1 ). Asumsi: eksibisionisme perempuan
( 2 ). Fungsi erotik
( 3 ). Kritik atas fungsi erotik

V. Penutup: ambivalensi busana di antara kesopanan dan erotika

Apabila setiap subtopik dan sub-subtopik di atas dikembangkan masing-masing ke dalam satu paragraf, maka kita akan mendapatkan minimal 11 paragraf untuk karangan tersebut. Apabila satu paragraf rata-rata terdiri dari 70-100 kata, maka karangan tersebut akan mencapai panjang sekitar 770-1100 kata. Bukankah ini sudah memadai bagi sebuah esai atau artikel pendek di surat kabar?

Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2098404-contoh-kerangka-karangan/#ixzz1jcwiljFo

 

CONTOH SURAT LAMARAN PEKERJAAN

Hal : Lamaran Pekerjaan

Kepada Yth.,
Manajer Sumber Daya Manusia
PT. Permata Indah Berlian
Jl. Seruling Senja No 45 Pasar Rebo
Jakarta Timur.

Dengan hormat,

Bpk. Steven Karet, seorang asisten editor di PT. Permata Indah Berlian, menginformasikan kepada saya tentang rencana pengembangan dan penambahan tenaga di Departement Marketing PT. Permata Indah Berlian.
Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ini perkenankan saya mengajukan diri untuk bergabung serta menjadi bagian dalam rencana pengembangan PT. Permata Indah Berlian tersebut.

Mengenai diri saya, dapat saya jelaskan sebagai berikut :
Nama :  ………………………………..
Tempat & tgl. lahir :  ………………………………..
Pendidikan Akhir : ………………………………..
Alamat :  ………………………………..
Telepon (HP) :  ………………………………..
e-mail :  ………………………………..
Status Perkawinan :  ……………………………….. (single/nikah)

Saat ini saya bekerja di PT. Emas Murni Sejati, sebagai staf Advertising dan Online Marketing, dengan fokus utama pekerjaan di bidang promosi serta brand imaging.

Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :

Daftar Riwayat Hidup.
Foto copy ijazah S-1.
Foto copy sertifikat kursus/pelatihan.
Pas foto terbaru.

Besar harapan saya untuk diberi kesempatan wawancara, dan dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai diri saya. Seperti yang tersirat di resume (riwayat hidup), saya mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman potensi dan seorang pekerja keras.

Demikian saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak.

      Hormat saya,

 

(                                   )

METODE DAKWAH “MAUIZHAN AL-HASANAH DAN TURUNANNYA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS

METODE DAKWAH “MAUIZHAN AL-HASANAH

DAN TURUNANNYA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS

 

 

A.Pendahuluan

Mauizhah al-hasanah merupakan salah satu prinsip metode dakwah yang digariskan oleh Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat 125. Sedangkan pemakaian kata-kata mauizhah dalam berbagai versi ditemukan dalam beberapa surat dan ayat, sekurang-kurangnya 25x dalam berbagai bentuk. Penjelasan oleh para mufassir tentang mauizhah al-hasanah memiliki keragaman dan turunannya yang banyak. Turunan yang dimaksud adalah ketika konsepsi mauizhah atau prinsip mauizhah di aplikasikan menjadi sebuah metode, maka akan didapatkan beragam teknik yang dapat dipergunakan oleh dai dalam menjalankan misi dakwahnya.

Dalam rangka mendudukkan konsep tentang mauizhah al-hasanah maka perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan mauizhah hasanah, bentuk-bentuk penerapan dalam turunannya serta hikmah berdakwah dengan mauizah al-hasanah.

B. Pengertian

Metode; Kata Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu Methodos yang berarti cara atau jalan. [1]Metode berasal dari dua kata yaitu “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan,cara). [2]Dalam bahasa Inggris ditulis dengan method yang berarti (1) a way of doing anything; mode; procedure, proses, especially, a regular, ordely devenite procedure or way of teathing, investigathing, ect. (2) regularity and orderliness in action, thought, or expression; system in doing thing or handling; (and) (3) regular, onderly arrangement. [3]Dalam bahasa Jerman methodica, artinya ajaran tentang metode.[4] Dalam bahasa arab disebut dengan thariq, [5]manhaj. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata “metode” mengandung pengertian cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dsb); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[6]

Beberapa istilah yang terkait dengan metode seperti pendekatan (approach), strategi, metode, teknik dan taktik. Dalam bahasa arab dikenal pula istilah nahiyah (pendekatan), Manhaj (Strategi), ushlub (metode), thariqah(Teknik) dan Syahilah (Taktik). [7]

Adapun yang dimaksud dengan metode dakwah adalah cara atau jalan yang dilakukan dan ditempuh oleh para dai dalam menyampaikan atau mendakwahkan ajaran Islam kepada umat (almaduin) melalui proses-proses atau strategi tertentu. Muizhah al-hasanah dalam bab al-dakwah ilallah bil mauzhah al-hasanah pada tafsir al-Qayyim halam 344 menjelaskan bahwa ulama mengartikannya sebagai perkataan yang bersahabat. Ada juga yang menyebutkanya dengan nasihat, dan peringatan dengan sangsi. Dikatakan pula sebagai amar dan nahi dalam bentuk thargib dan tarhib.[8]

 

 

 

 

Para mufassir, seperti Al-Maragi, Muhammad Nawawi dengan tafsirnya at-Tafsir Al-Munir dan lain-lain sebagainya, sebagaimana yang dikutip oleh Asep muhidin, mendeskripsikan pengertian Al-mauizhah al-hasanah sebagai berikut:

  1. Pelajaran dan nasihat yang baik, berpaling dari hal perbuatan jelek melalui tarhib dan targhib (dorongan dan motivasi); penjelasan, keterangan, gaya bahasa, peringatan, petutur, teladan, pengarahan dan pencegahan dengan cara halus.
  2. Bi al-mauizhah al-hasanah adalah melalui pelajaran, keterangan, petutur, peringatan, pengarahan dengan gaya bahasa yang mengesankan atau menyantuh dan terpatri dalam nurani.
  3. Dengan bahasa dan makna symbol, alamat, tanda, janji, penuntun, petunjuk, dan dalil-dalil yang memuaskan melalui al-qaul al-rafoq (ucapan lembut dengan penuh kasih sayang);
  4. Dengan kelembutan hati menyentuh jiwa dan memperbaiki peningkatan amal;
  5. Melalui suatu nasihat, bimbingan dan arahan untuk kemaslahatan. Dilakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab, akrab, komunikatif, mudah dicerna dan terkesan dihati sanubari mad’u;
  6. Suatu ungkapan dengan penuh kasih sayang yang dapat terpatri dalam kalbu, penuh kelembutan sehingga terkesan dalam jiwa, tidak melalui cara pelanggaran dan pencegahan., mengejek, melecehkan, menyudutkan atau menyalahkan, dapat meluluhkan hati yang keras, menjinakkan kalbu yang liar;
  7. Dengan tutur kata yang lemah lembut, pelan-pelan, bertahap, dan sikap kasih sayang dalam konteks dakwah, dapat membuat seseorang merasa dihargai rasa kemanusiaannya sehingga dapat merespon positif dari mad’u.[9]

Siti muriah sebagaimana dikutip oleh Samsul Munir Amin, mengartikan Mauizah al-hasanah atau nasihat yang baik, maksudnya adalah mamberikan

 

 nasihat kepada orang lain dengan cara yang baik, dapat diterima, berkenan di hati, menyentuh perasaan, lurus dipikiran, menghindari sikap kasar, dan tidak mencaci atau menyebut kesalahan audiens, sehingga pihak objek dakwah dengan rela hati dan atas kesadarannya dapat mengikuti ajaran yang disampaikan oleh pihak subjek dakwah. Jadi dakwah bukan propaganda.[10]

Ali Musthafa Ya’cup mengartikan mauizah al-hasanah dengan ucapan yang berisi nasihat-nasihat baik dan bermanfaat bagi orang-orang yang mendengarkannya, atau argument-argumen yang memuaskan sehingga pihak audiens dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh subjek dakwah.[11]

Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi sebagaimana yang dikutuip oleh hasanudin dalam buku Metode Dakwah mengemukakan bahwa al-mauizah al-hasanah adalah perkataan-perkataan yang tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka dengan al-Qur’an.[12]

    Abd. Hamid al-Bilali mengartikannya dengan suatu manhaj (metode) dalam dalam berdakwah untuk mengajak ke jalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik.[13]

      Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa mauizah al-hasanah adalah dakwah berupa ungkapan, perbuatan atau tindakan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita gembira, peringatan, pesan-pesan penting (wasiat) yang dapat dijadikan sebagai acuan dan panduan dalam berdakwah menuju tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Dapat pula dikatakan dengan ungkapan yang sarat dengan nilai-nilai edukatif yang menggugah hati dan membangkitkan kesadaran akan Tuhan (merasa bertuhan). Oleh karena itu sifat dari metode ini lebih persuasive, dinamis yang jauh dari sikap egois, agitasi emosional dan apologi. Mauizhah al-hasanah metode yang bervariatif praktis dan dinamis yang sangat cocok dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Mauizhah al-hasanah diartikan juga dengan bahasa-bahasa tabligh yang mengenakan pensengaran, diterima oleh hati dan menyentuh sanubari dan membangkitkan kesadaran dan disampaikan sesuai dengan bahasa qaum dengan lemah lembut dan penuh kesungguhan.

C. Bentuk-bentuk Turunannya

Metode pembelajaran atau mauizhah al-hasanah memiliki berbagai variasi seperti dijelaskan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang dijadikan sebagai bentuk turunan dari mauizhah itu sendiri. Muhammad Fuad al-Baqiq[14] memaparkan kata-kata mauizhah ditemukan sebanyak 9x dalam berbagai surat antara lain : Qs. Al-Baqarah ayat 66 dan 275, Ali Imran:138, al-Maidah: 46, al-A’raf:57, al-Nahal: 125, dan Al-Nur: 34.

Kemudian dalam bentuk asal waaza ditemukan sebanyak 10x terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 232, Ali Imran 138, Anisa’ 63 dan 66, as-Shura 136, Shaf 16 dan 53, al-Waqiah 47, al-Mujadalah 3, at-Thalaq 2. Dalam bentuk fi’il mudhari “yaizhu” ditemukan sebanyak 9x seperti dalam surat al-Baqarah ayat 231, an-Nisa 58, an-Nahal 90, al-Hajji 30 dan 32, an-Nur 17, Luqman 13 dan at-Talaq ayat 5. Kata-kata yaizhuhu diartikan sebagai kegiatan memberikan pembelajaran. Kegiatan yang bernuansa edukatif dalam al-Qur’an ditemukan berbagai variasi atas bentuk yang akan dinaha pada bahasa berikut ini.

D. Penerapan Metode Mauizah al-Hasanah

Prinsip penerapan metode dakwah dengan Mauizah al-Hasanah teraplikasi dalam bentuk ahsan qaul dan ahsan amal. Ahsan Qaul diartikan sebagai bentuk komunikasi verbal dengan menggunakan kata-kata atau pembicaraan yang bernilai edukasi dan bersifat penyadaran dam memberikan pembelajaran yang membekas dijiwa orang yang mendengar dan menerima isi pembicaraan tersebut. Sedangkan Ahsan Amal diartikan sebagai tindakan nyata yang dikenal dengan dakwah bilhal.

Perkataan (Qaulan) sebagai symbol komunikasi penyejuk hati dan penumbuhan kesadaran jiwa dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 11 variasi dalam berbagai ayat antara lain:

  1. Qaulan ma’rufan terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 235, An-Nisa’ ayat 5 dan 8 serta surat Al-ahzab ayat 32
  2.  Qaulan sadidan, terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 9 dan Al-Ahzab ayat 70
  3. Qaulan Balighan, terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 63
  4. Qaulan karimah, terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 23
  5. Qaulan maysuran, terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 28
  6. Qaulan Azhiman, terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 40
  7. Qaulan Layyinan, terdapat dalam surat Thaha ayat 44
  8. Qaulan min abbin rahim, terdapat dalam surat Yasin ayat 58
  9. Qaulan Tsaqilan, terdapat dalam surat al-Munzammil ayat 5
  10. Qaulan Ahsan (ahsan Qaula), terdapat dalam surat Lukman ayat 33
  11. Qaulan Salaman, terdapat dalam surat Alfurqan ayat 63

Semua bentuk perkataan tersebut terpakai dan digunakan dalam kegiatan dakwah termasuk dakwah dengan menerapkan prinsip metode mauziah al-hasanah. Adapu penerapan metode dapat dilihat dari turunan metode sebagai berikut:

  1. a.      Tabligh

Secara harfiyah kata-kata tabligh berasal dari kata-kata balagha yang berarti sampai. Kemudian dalam bentuk fiil muta’addi (transitif) menjadi ballaga yang berarti menyampaikan. Bentuk mashdar dari fi’il madhi ini menjadi tabligh. Dalam konteks Dakwah, tabligh diartikan menyampaikan atau menginformasikan ajaran ilahi (al-islam) kepada manusia agar diimani dan dapat dipahami serta dijadikan pedoman hidupnya.

Secara defenitif, tabligh dirumuskan para ahli antara lain sebagai i’lam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibrahim Imam dan Abdul Latif Hamzah. I’lam didefinisikan sebagai berikut:

  1. Membekali manusia dengan informasi dan data yang benar, dengan pengetahuan yang ilmiah, kenyataan yang actual dan akurat untuk membantu untuk terbentuknya pemikiran dan pandangan dalam menghadapi kenyataan dan kesulitan yang dihadapi.
  2. Menyampaikan ajaran dasar-dasar kaidah dan ketauhidan, ajaran dalam ubudiyah sesuai dengan petunjuk kitab Allah dan sunnah Rasul, serta akhlak dalam politik, social kemasyarakatan. Dan perekonomian dengan tujuan agar islam dijadikan pandangan hidupnya.
  3. Suatu ilmu yang membahas cara menyampaikan ajaran islam dengan berbagai cara dan metode ilmiah, melalui jalan Istinbath (dedukdi), idtibas (induksi), Istiqra’I (penelitian dan eksperimen)

Dengan demikian, tabligh merupakan suatu kegiatan dakwah yang dilakukan oleh seorang mubaligh, dewasa ini dikenal dengan proses komunikasi yang menyebabkan berbagai unsur dengan satu maksud dan tujuan.

Dalam Al-Qur’an. Kata-kata tabligh yang berarti sampai ditemukan sebanyak 4 x masing-masing terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 37, Al-hiji ayat 4, dan Gafir ayat 67 dan 80. Sedangkan mubaligh orang yang menyampaikan tabligh ditemukan dalam surat yasin ayat 17. Dalam redaksi yang memiliki kemiripan dengan itu dapat ditemukan dalam surat Ali Imran ayat 20, al-Maidah ayat 92 dan 99, sural al-Ra’d ayat 40, an-Nahl ayat 35 dan 82, surat an-Nur ayat 54, al-Ankabut : 89, Asy-Syura ayat 48.

 

 

  1. b.      Ta’lim

Ta’alim dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pendidikan atau pengajaran. Istilah yang berpadanan dengan ini dikenal dengan tarbiah. Dalam bahasa Indonesia, kedua istilah tersebut bias diartikan secara berpadanan, yaitu bermakna “pendidikan dan pengajaran”. Dalam proses empiriknya, kedua kegiatan itu tampaknya lebih mendahulukan proses pengajaran (Ta’lim) disini adalah mengajar atau memberi pelajaran berdasarkan pengetahuan dan pendidikan. Adapun pendidikan adalah mendidik manusia agar dengan pengetahuan dan penyelidikan itu, ia benar-benar menjadi sadar akan hakikat keberadaan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang pada akhirnya mampu memahami akidah dan syari’ah sebagai jalan kehidupannya.

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang semakna dengan pendidikan itu sendiri. Kata-kata yang sering ditemukan yang di artikan sebagai proses pendidikan atau pengajaran diantaranya kata-kata ‘allama-yuallimu, ya’lamu, ilman dan ta’lim. Hal ini ditegaskan oleh allah misalnya dalam surat Al-Baqarah 151, al-Rahman ayat 1-4, Ali Imran 48, an-Nisa’ ayat 133 dan sebagainya.

      Dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mengakomudir tentang pendidikan dan pengajaran maka tujuan pendidikan adalah mengajar dan mendidik manusia agar menjadi manusia yang menyadari kehadiran Tuhan dan mengenal nilai-nilai pesan ajaran ilahi berdasarkan ilmu pengetahuan dan penyelidikan yang mendalam melalui tadabbur dan tafakkur. Inilah penulis sebut dengan ulul albab.

 Dengan demikian dapat dipahami bahwa tarbiah dan ta’lim salah satu metode atau strategi dakwah yakni turunan mauizah al hasanah dalam upaya mendidik dan menambah wawasan (transfer of knowlage) dan internalisasi nilai menuju insan yang bertakwa dapat pula dikatakan sebagai insan ahsan taqwim. Oleh karena itu Syaikh Ali Mahfuzh mengatakan sebaik-baik dakwah adalah tarbiyah. Sekaligus menjawab keragu-raguan tentang poso tarbiyah dan dakwah. Dapat ditegaskan bahwa tarbiyah dan taklim turunan dari metode dakwah serta induk dari tarbiyah adalah dakwah.

  1. c.       Tadzkir dan Tanbih

Istilah Tadzkir dan Tanbih, dapat diartikan sebagai peringatan. Namun, ketika kedua istilah ini digunakan dalam konteks dakwah, maka pengertiannyapun mempunyai makna yang berbeda. Makna yang dikandungnya antara lain memberi nasihat, memberitahukan, membangkitkan dan perhatian kewaspadaan. Istilah Tadzkirah dalam terjemahan Depag diartikan “peringatan” yang diungkapkan dalam al-Qur’an sebanyak sembilan kali yaitu dalam surat Thaha ayat 3, al-Waqiyah ayat 73, al-Haqqah ayat 12 dan 48, al-Munzammil ayat 19, al-Muddatsir ayat 29, 49, 50 serta ‘Abasa ayat 11.

Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), (Qs. 20:2-3)

Sedang Tanbih secara khusus tidak terdapat dalam al-Qur’an, namun tetap dipergunakan dalam tema dakwa dengan tujuan untuk memperkuat dan mempertegas makna Tadzkirah dan Tanbih merupakan kalimat mutaradif (padan yang hamper mirip) yang diartikan sebagai “peringatan” dan penyadaran”.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa tadzkirah dan tanbih merupakan tindak lanjut dari tarbiyah dan ta’lim. Setelah mengajar dan mendidik yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan penyelidikan, agar peserta didik mampu dan mau serta sanggup menghayati dan mengamalkan ajaran dakwah, maka perlu dilakukan kegiatan dalam rangka mengingatkan dan menyadarkan agar mereka komitmen di jalan hadayah yang telah diberikan.

Dalam mengaplikasikan metode ini dilakukan dengan berkesinambungan (kontinuitas) dalam bahasa dakwahnya dikenal dengan istilah tikrar (pengulangan). Pengulangan kegiatan dakwah terutama dalam mengingatkan terdapat 18 x dalam Al-Qur’an yang ditemukan dalam surat Ali Imran ayat 20, al-Maidah: 92,99, al-Ra’d: 40, an-Nahal : 35 dan 82, an-Nur: 54, al-Ankabut: 18, Yasin: 17, As-Syuhra: 48, al-A’raf: 188, Hud: 2, Al-Baqarah: 199, Fatir:24, al-Isra’: 105, Furqan: 56, as-Sajadah: 45, dan Al-Fath: 8.

Adapun hikmah pengulangan dalam Al-Qur’an terutama mengingatkan atau menyadarkan sebagai salah satu bentuk strategi dakwah yang mengandung beberapa rahasia:

Pertama,meringankan beban psikologis bagi para juru dakwah, agar setelah berupaya melaksanakan tugas dakwah secara optimal tidak terlalu memikirkan tentang hasil dan penerimaan dakwahnya oleh almaduinya.

Kedua, agar para dai terhindar dari kepentingan dan kehendak serta ambisi pribadi atau fanatisme kelompok sehingga ia menjalankan tugas dengan tenang, lurus dan apa adanya dan penuh keikhlasan.

Ketiga,terhindar dari unsure pemaksaan kehendak, dan simad’u terhindar pula dari keterpaksaan serta kemunafikan.

Keempat, menunjukkan batasan yang tegas antara hak dan kewajiban serta wewenang manusia sebagai hamba dengan hak dan kewajiban serta wewenang ilahi sebagai khalik, pemilik hakiki dan pengatur alam jagat raya ini.

  1. d.      Taujih wal irsyad (Bimbingan dan Konseling)

Dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kata-kata konseling. Namun kata yang semakna disebutkan oleh mussafir ketika menjelaskan makna mauizhah al-hasanah dalam surat an-Nahl ayat 125 dengan ungkapan al-tujih wa al irsyad. Dalam Al-Qur’an lebih kurang Sembilan belas kali ayat yang menyebutkan istilah irsyad dalam beragam susunan kata dalam berbagai surat. Berikut ini tabel ayat yang dimaksud:

Dari ayat-ayat diatas yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah Bimbingan dan Konseling. Istilah bimbingan sebagaimana yang dikemukakan oleh thohari Musnamar dalam komaruddin, mengartikan sebagai “proses pemberiaan bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan Allah sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan konseling diartikan sebagai “Proses pemberian bantuan terhadap individu agar dirinya menyadari kembali kepada eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup salaras dengan ketentuan dan petunjuk llah, sehingga ia dapat mencapai kebahagian hidup didunia dan akhirat.

Dengan demikian konseling lebih memfokuskan kajian pada penyelesaian kasus dan pemecahannya agar setiap pribadi atau individu bias menyelesaikan masalahnya melalui suatu proses atau tahapan-tahapan dan mengikuti aturan dan prinsip-prinsip tertentu.

  1. e.       Nasehat/tanshih

Nasihat ditemukan dalam Al-Qur’an sebanyak 3 kali dalam bentuk yaitu dalam surat al-‘Araf ayat 21, 79, dan al-Qashas 20.

Dari segi pengertian nasihat diartikan dengan khalasha yang punya makna murni dan bersih, juga berarti “khata” yaitu menjahit. Dalam kamus bahasa Indonesia nasihat diartikan dengan memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Nasihat sifatnya anjuran yang bernilai motivasi yang didalamnya memuat muatan misi mengingatkan akan adanya konsekwensi logis dan saksi atas segala bentuk perbuatan. Pelaksanaan nasihat lebih santun dan manusiawi karena dalam penerapannya lebih menekankan kepada aspek bahasa kalbu yang jauh dari intimidasi dan pemaksaan kehendak.

Dalam perspektif al-Qur’an juga diartikan sebagai washiyah. Dalam al-Qur’an kata-kata nasihat ditemukan sebanyak 13 kali dalam delapan bentuk didua belas ayat. Seperti dinukilkan dalam surat Al-‘Araf ayat 21, 66, 68, 79, 93, surat at-Taubah ayat: 91, Hud ayat 34, Yusuf ayat 11 dan Al-Qasas ayat12 dan 20 serta surat at-Tahrim ayat 8.

Dengan demikian nasihat salah satu cara dakwahnya para nabi sebelum nabi Muhammad Saw dan mengingatkan dan menyadarkan umat dan kaumnya. Nabi Muhammad Saw juga menjadikan sebagai salah satu bentuk strategi penyampaian yang memiliki banyak pelajaran didalamnya.

Dalam Konteks hadis, Nasihat itu juga terpakai dalam dakwahnya Nabi seperti yang dikemukakan dalam hadis Rasulullah Saw dari abu Hurairah yang diriwayatkan oleh bukhari:

Dari hadis tersebut dapat dikemukakan bahwa salah satu nasihat Nabi kepada umatnya adalah agar mampu mengendalikan gejolak emosional, “Nabi memesankan jangan marah”. Ini sebuah siyalemen bahwa begitu pentingnya arti dari sebuah pengendalian emosional.

  1. f.        Tabsyir, Tanzir

Tabsyir dan tanzir merupakan pendekatan dakwah yang dikenalkan oleh Allah dalam Al-qur’an. Tabsyir diartikan dengan menggembirakan sedangkan Tanzir berarti member kabar pertakut atau peringatan. Para mufassir mengartikan dan memberikan pemahaman tentang model penerapan tabsyir dan tanzir dalam berdakwah. Tabsyir dilakukan dengan ilustrasi pahala, penghargaan (apresiasi) atau dengan janji mendapatkan kehidupan syurga bagi seseorang yang menerima positif atau beriman dan menjadikan amal saleh. Adapun pendekatan tanzir dilakukan dengan ilustrasi sanksi, akibat buruk atau mendapat ancaman suatu kehidupan pahit, gersang dan sangat menyedihkan, yaitu suatu kehidupan an-nar.

Dalam Al-qur’an cukup banyak muatan ayat yang berisi motivasi, anjuran, janji-janji berupa pahala sekaligus mengingatkan akan sanksi yang dibuat oleh seseorang yang akan diterimanya kelak atau menjadi konsekwensi logis dari aktifitas yang dilakukannya. Contoh: Firma Allah yang mengandung lafadz dan makna tabsyir dan tanzir sebagai berikut:

Dengan demikian tabsyir dipergunakan untuk memotivasi dan membangkitkan semangat dan janji-janji atas perbuatan baik yang dilakukan sedabgkan tanzir dipergunakan untuk mengingatkan dengan ancaman Allah kepada orang-orang yang melanggar ketentuan Allah dan Rasul-nya berupa kehidupan yang sempit atau siksaan yang akan menanti dibalik kejahatan yang mereka lakukan.

 

  1. g.      Tamsi / amsal

Tamsil atau perumpamaan atau alias analogi merupakan salah satu teknik dakwah muizhah al-jasanah yang bertujuan untuk meyakinkan para audiens. Kata-kata tamsil dalam al-Qur’an dapat dilacak dari bentuk kata dasarnya yang berarti perumpamaan.  

Amsal dalam al-Qur’an ditemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 17, 23, 26, 106, 113, 118, 137, 171, 194, 214, 228, 233, 261, 264, 265, 275 (18x). Ali Imran ayat 117, 140 dan 165 (3x). An-nisa’ ayat 140, (1x), Al-maidah ayat 95 (1x), al-An’am ayat 93, 122, 124, 160 (4x), al-A’raf ayat 169, 176, 177 (3x), al-Anfal ayat 31 (1x), Yunus ayat 24, 27, 38, 102 (4x), hud ayat 13, 24, 27, 99 (4x), ar-Ra’d ayat 6, 17, 18, 35 (4x), ibrahi ayat 10, 18, 24, 26 (4x), an-Nahl ayat 60, 75, 76, 112, 126 (5x), al-Isra’ ayat 88, 89, 99 (3x), al-Kahfi ayat 32, 45, 54, 109, 110 (5x), Maryam ayat 17 (1x), Thaha ayat 58, 63, 104 (3x), al-Anbiya’ ayat 3,84 (2x), al-Hajji ayat 60, 73 (2x), al-Mukminuun ayat 24, 33, 81 (3x), an-Nur ayat 17, 34, 35, (3x), al-Furqan ayat 33 (1x), as-Shuara ayat 154, 186 (2x), al-Qasas ayat 48 (1x), ar-Room ayat 27, 28, 58 (3x), Fatir 14 (1x), Yasin ayat 13, 15, 42, 78 (4x), Fushilat ayat 6 (1x), az-Zukruf ayat 8, 17, 56, 57, 59 (5x), al-Ahqaf ayat 10 (1x), Muhammad ayat 15 (1x), al-Fath ayat 29 (1x), at-Tur ayat 34 (1x), al-hadid ayat 20 (1x), al-Hasyar ayat 15, 16 (2x), al-Jum’ah ayat 5 (1x), at-Talaq ayat 12 (1x), at-Tahrim ayat 10 (1x), al-Mudatsir ayat 31 (1x).

Jadi ditemukan kata amsal dalam berbagai bentuk dalam al-Qur’an sebanyak 118x dalam 41 surat. Perumpaman itu diberikan oleh allah adalah sebagai bahan renungan dan pelajaran untuk meyakinkan akan akibat dari suatu kebaikan dan kejahatan yang terjadi dalam kehidupan umat manusia.

  1. h.      Isyfa’ / Ilaj / Tadawwa’   

Isyfa’ atau Istisyfa’ diartikan sebagai usaha minta kesembuhan atau atau memohon untuk sebuah kesembuhan dengan cara menjadi al-Qur’an sebagai do’a. Salah satu fungsi dari al-Qur’an adalah syifa’. Hal ini diungkapkan oleh Allah dalam surat al-Isra’ ayat 82.

Kegiatan dakwah melalui upaya pengobatan dan perawatan ternyata cukup ampuh dalam dakwah penyadaran dan penyabaran. Kenyataan orang yang sakit jika diamati tingkah lakunya ternyata mereka sedang mengalami kehilangan dayarasionalitasnya. Buktinya adalah orang yang sedang sakit akan melakukan apa saja asalkan mereka sembuh. Biasanya orang yang sakit sangat membutuhkan dakwah motivatif dakwah terapeutik.

  1. i.        Tazkiyah, Tilawah, Ta’limah

Tazkiyah diartikan dengan kegiatan dalam mensucikan jiwa. Kata pensucian dalam al-Qur’an dikenal dengan kata-kata zakah. Dalam al-Qur’an ditemukan sekurang-kurangnya 35x zakah dicantumkan dalam beberapa surat dan ayat. Tazkiyah sendiri ditemukan dalam surat al-Baqarah ayat 151.

Dengan demikian Tazkiyah, Tilawah dan Taklimah merupakan turunan dari mauizhah al-Hasanah. Teknik merupakan teknik khusus yang dipergunakan oleh kalangan sufi dalam upaya mensucikan batinnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Begitu juga dengan mewiridkan dan membiasakan tilawah al-Qur’an dan mentalaahnya sesuai dengan ilmu yang dibutuhkanya.

  1. j.        Taqish (kisah)

Kisah secara etimologi merupakan bentuk jama’ dari kata Qishah. Lafazh ini merupakan bentuk mashdar dari kata qassa-yaqussu. Lafazh Qashas memiliki beragam makna seperti menceritakan, menelusuri atau mengikuti jejak.

Secara terminologis kisah dalam al-Qur’an berarti berita-berita al-Qur’an tentang umat terdahulu. Juga diartikan sebagai kisah-kisah yang menceritakan ihwal umat-umat terdahulu dan nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau, masa kini dan masa akan dating.

Dengan demikian kisah adalah salah satu teknik menyampai dan menyajikan materi tabligh atau ajaran dakwa melalui proses bertutur kata atau bercerita tentang masa lalu, sekarang dan yang akan datang yang sarat dengan nilai-nilai edukasi atau mengandung ibrah yang bias dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Kisah dalam al-Qur’an ditemukan sebanyak 20x seperti ditemukan dalam surat Ali Imran ayat 62, an-Nisa’ ayat 164, al-A’raf ayat 176, Yusuf ayat 3 dan 5, 111, an-Nahl ayat 118, al-Kahfi ayat 64, al-Qashas ayat 25, ghafir ayat 78.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      

 


[1] Fuad Hasan dan Koentjaranigrat, beberapa Azas Metodologi Ilmiyah, di dalam Koetjaranigrt (Ed), Metodologi PenelitianMasyarakat, (Jakarta : Gramedia, 1997, h.16.

[2] M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta :Bumi Aksara, 1991),h.61

[3] Wiliam Collins, Webster’s New Twentieth Dictionary, (Amerika Serikat: Noah Webster,1980) ed ke-2, h.1134 dan temukan juga dalam Salmadanis, Filsafat Dakwah, (Jakarta : Surau, 2003), h.117

[4]  Munzier Saputra dan Harjani Hefni (Ed), Metode Dakwa, (Jakarta : Rahmad Semesta, 2006) Cet. Ke-2, h.6

[5] Hasanudin, Hukum Dakwah, (Jakarta : pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet.ke-9,h.35

[6] Poerwadarminta, kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1986), Cet.ke-9,h.649

[7] Moh. Ali Azis, Ilmu Dakwah,(edisi Revisi),(Jakarta: Kencana Pernanda Media Group, 2009),h.345-346

 

[9] Asep Muhidin, Dakwah dalam Perspektif al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2002),h.165-166

[10] Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah,(Jakarta: Amzah, 2009),h.100

[11] Ibid

[12] Munzier Saputra dan Harjani Hefni (ed), Metode Dakwah,(Jakarta: Rahmat Semesta,2006) edisi Revisi,h.15

[13] Baca selengkapnya Abd. Hamid al-da wah fi ingkar al-muankar,(Kuwat: Dar al-Dakwa,1989),h.260 atau baca Munzier Saputra dan Harjani Hefni (ed), Metode Dakwah, (Jakarta: Rahmad Semesta,2006), edesi Revisi,h.16

[14] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’ al-Mu’jam al-Mufahras li al-Qur’an al-Karim, (Qahirah: Dar al-Hadis,1998),h.153-154

ASKEP PADA ANAK KKP

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1.  LATAR BELAKANG
    1. Latar belakang

KKP adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.
Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein.

  1. Tujuan
  • Tujuan umum

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini agar kita semua tahu terutama kita sebagai mahasiswa akademi keperawatan lebih mendalami tentang penyakit KKP juga untuk memenui tugas makalah yanh diberikan oleh diberikan dosen pembimibing dan Agar mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit KKP

  • Tujuan khusus
    • mahasiswa mengetahui apa itu KKP
    • Agar mahasiswa mengerti cara merawat pasien dengan KKP
    • Agar mahasiswa dapat memberi asuhan keperawatan kepada klien dengan KKP sesuai dengan pendidikan yang didapatkan nya
    •  

 

 

BAB II

        TINJAUAN TEORITIS

 

 

  1.  DEFENISI

KKP adalah penyakit yang disebabkan oleh konsumsi kalori yang tidak memadai yang mengakibatkan kekurangan protein dan mikronutrisi (zat gizi yang diperlukan dalam jumlah sedikit, misalnya vitamin dan mineral.

KKP merupakan masalah gizi utama di indonesia. KKP disebabkan karena defisiensi makro nutrion ( zat gizi makro ). Meski pun saat ini terjadi masalah dengan defisiensi macro nutrion namun di beberapa daerah di prevalensi kep masih tinggi sehingga memerlukan penanganan yang intensif dalam penurunan prevalensi.

 

 

  1. ETIOLOGI:

ü  Faktor ekonomi, protein yang bermutu baik terutama terdapat pada bahan makanan yang berasal dari hewan seperti protein susu, keju, telur, daging, dan ikan. Bahkan makanan tersebut mahal harganya, sehingga tidak terbayar oleh mereka yang berpenghasilan rendah.

ü  Pengetahuan yang kurang tentang nilai bahan makanan, cara pemeliharaan anak.

ü  Keadaan hygiene yang buruk, mereka mudah dihinggapi infeksi dan investasi parasit dan timbulnya diare mempercepat dari penyakit ini.

ü  Kekurangan gizi merupakan suatu keadaan dimana terjadi kekurangan zat-zat giziensensial, yang bisa disebabkan oleh: Asupan yang kurang karena makanan yang jelek atau penyerapan yang buruk dari usus (malabsorbsi); Penggunaan berlebihandari zat-zat gizi oleh tubuh; Kehilangan zat-zat gizi yang abnormal melalui diare, pendarahan, gagal ginjal atau keringat yang berlebihan.Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KKP adalah konsumsi yangkurang dalam jangka waktu yang lama. Pada orang dewasa, KKP timbul padaanggota keluarga rumahtangga miskin olek karena kelaparan akibat gagal panen atauhilangnya mata pencaharian. Bentuk berat dari KKP di beberapa daerah di Jawa pernah dikenal sebagai penyakit busung lapar atau HO (Honger Oedeem).

 

 

  1. MANIFESTASI KLINIK

ü  Edema, umunya seluruh tubuh terutama pada punggung kaki (dorsum pedis)

ü Wajah membulat dan sembab

ü Pandangan mata sayu

ü  Rambut tipis. Kemerahan seperti warna jagung, mudah di cabut tanpa rasa sakit,rontok 

ü Perubahan status mental, apatis, rewel

ü pembesaran Hati

ü Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 

 

  1. PATOFISIOLOGI

Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).

 

 

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. Pemeriksaan Fisik
      a. Mengukur TB dan BB
      b. Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan

  TB (dalam meter)

  1. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang

(lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.

d. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).

  1.  Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.

 

  1. PENGOBATAN
    1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
    2.  Pemberian terapi cairan dan elektrolit
    3.  Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
    4.  Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASKEP TEORITIS

 

 

  1. PENGKAJIAN
    1. Identitas klien dan identitas penanggung
    2. Riwayat kesehatan klien
    3. Diagnosa keperawatan

ü  Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang kurang

  1. Intervensi

ü  Anjurkan klien makan selagi hangat

ü  Anjurkan klien makan sedikit tapi sering

ü  Berikan informasi pada keluarga klien

 

  1. Evaluasi

ü  Makanan klien habis satu porsi

ü  Keluarga klien mendukung dalam pengobatan karena sudah mengetahui apa itu KKP

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

KKP merupakan masalah gizi utama di indonesia. KKP disebabkan karena defisiensi makro nutrion ( zat gizi makro ). Meski pun saat ini terjadi masalah dengan defisiensi macro nutrion namun di beberapa daerah di prevalensi kep masih tinggi sehingga memerlukan penanganan yang intensif dalam penurunan prevalensi.

Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar.

 

 

  1. SARAN
  2. Untuk klien diharapkan setelah diberikan pendidikan kesehatan, klien dapat mengerti dan memahami pengertian perawatan dan pencegahan KKP sehingga dapat terhidnar dari serangan KKP.
  3. Untuk perawat hendaknya para perawat dapat lebih meningkatkan kinerja dengan mengacu kepada standar operasional prosedur yang ditetapkan oleh rumah sakit. Serta perawat juga hendaknya setiap klien yang baru masuk rumah sakit segera diberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit yangdiderita agar klien dankeluarga tidak cemas terhadap penyakitnya dan menambah pengetahuan

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

www.google.com/askep kkp_akses 10 mar 09

doengoes, marylin. (1999).rencana askep;pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien:jakarta:EGC

Wong. Donna. L. 1990. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing,Fourth Edition,Mosby-Year Book Inc, St. Louis Missouri.

Suriadi, Skp. MSN & Rita Yuliani, Skp. M.Psi. (2010) ”Asuhan Keperawatan Pada Anak” , Edisi 2.  Jakarta