METODE DAKWAH “MAUIZHAN AL-HASANAH DAN TURUNANNYA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS

METODE DAKWAH “MAUIZHAN AL-HASANAH

DAN TURUNANNYA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS

 

 

A.Pendahuluan

Mauizhah al-hasanah merupakan salah satu prinsip metode dakwah yang digariskan oleh Allah Swt dalam surat an-Nahl ayat 125. Sedangkan pemakaian kata-kata mauizhah dalam berbagai versi ditemukan dalam beberapa surat dan ayat, sekurang-kurangnya 25x dalam berbagai bentuk. Penjelasan oleh para mufassir tentang mauizhah al-hasanah memiliki keragaman dan turunannya yang banyak. Turunan yang dimaksud adalah ketika konsepsi mauizhah atau prinsip mauizhah di aplikasikan menjadi sebuah metode, maka akan didapatkan beragam teknik yang dapat dipergunakan oleh dai dalam menjalankan misi dakwahnya.

Dalam rangka mendudukkan konsep tentang mauizhah al-hasanah maka perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan mauizhah hasanah, bentuk-bentuk penerapan dalam turunannya serta hikmah berdakwah dengan mauizah al-hasanah.

B. Pengertian

Metode; Kata Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu Methodos yang berarti cara atau jalan. [1]Metode berasal dari dua kata yaitu “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan,cara). [2]Dalam bahasa Inggris ditulis dengan method yang berarti (1) a way of doing anything; mode; procedure, proses, especially, a regular, ordely devenite procedure or way of teathing, investigathing, ect. (2) regularity and orderliness in action, thought, or expression; system in doing thing or handling; (and) (3) regular, onderly arrangement. [3]Dalam bahasa Jerman methodica, artinya ajaran tentang metode.[4] Dalam bahasa arab disebut dengan thariq, [5]manhaj. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata “metode” mengandung pengertian cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dsb); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[6]

Beberapa istilah yang terkait dengan metode seperti pendekatan (approach), strategi, metode, teknik dan taktik. Dalam bahasa arab dikenal pula istilah nahiyah (pendekatan), Manhaj (Strategi), ushlub (metode), thariqah(Teknik) dan Syahilah (Taktik). [7]

Adapun yang dimaksud dengan metode dakwah adalah cara atau jalan yang dilakukan dan ditempuh oleh para dai dalam menyampaikan atau mendakwahkan ajaran Islam kepada umat (almaduin) melalui proses-proses atau strategi tertentu. Muizhah al-hasanah dalam bab al-dakwah ilallah bil mauzhah al-hasanah pada tafsir al-Qayyim halam 344 menjelaskan bahwa ulama mengartikannya sebagai perkataan yang bersahabat. Ada juga yang menyebutkanya dengan nasihat, dan peringatan dengan sangsi. Dikatakan pula sebagai amar dan nahi dalam bentuk thargib dan tarhib.[8]

 

 

 

 

Para mufassir, seperti Al-Maragi, Muhammad Nawawi dengan tafsirnya at-Tafsir Al-Munir dan lain-lain sebagainya, sebagaimana yang dikutip oleh Asep muhidin, mendeskripsikan pengertian Al-mauizhah al-hasanah sebagai berikut:

  1. Pelajaran dan nasihat yang baik, berpaling dari hal perbuatan jelek melalui tarhib dan targhib (dorongan dan motivasi); penjelasan, keterangan, gaya bahasa, peringatan, petutur, teladan, pengarahan dan pencegahan dengan cara halus.
  2. Bi al-mauizhah al-hasanah adalah melalui pelajaran, keterangan, petutur, peringatan, pengarahan dengan gaya bahasa yang mengesankan atau menyantuh dan terpatri dalam nurani.
  3. Dengan bahasa dan makna symbol, alamat, tanda, janji, penuntun, petunjuk, dan dalil-dalil yang memuaskan melalui al-qaul al-rafoq (ucapan lembut dengan penuh kasih sayang);
  4. Dengan kelembutan hati menyentuh jiwa dan memperbaiki peningkatan amal;
  5. Melalui suatu nasihat, bimbingan dan arahan untuk kemaslahatan. Dilakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab, akrab, komunikatif, mudah dicerna dan terkesan dihati sanubari mad’u;
  6. Suatu ungkapan dengan penuh kasih sayang yang dapat terpatri dalam kalbu, penuh kelembutan sehingga terkesan dalam jiwa, tidak melalui cara pelanggaran dan pencegahan., mengejek, melecehkan, menyudutkan atau menyalahkan, dapat meluluhkan hati yang keras, menjinakkan kalbu yang liar;
  7. Dengan tutur kata yang lemah lembut, pelan-pelan, bertahap, dan sikap kasih sayang dalam konteks dakwah, dapat membuat seseorang merasa dihargai rasa kemanusiaannya sehingga dapat merespon positif dari mad’u.[9]

Siti muriah sebagaimana dikutip oleh Samsul Munir Amin, mengartikan Mauizah al-hasanah atau nasihat yang baik, maksudnya adalah mamberikan

 

 nasihat kepada orang lain dengan cara yang baik, dapat diterima, berkenan di hati, menyentuh perasaan, lurus dipikiran, menghindari sikap kasar, dan tidak mencaci atau menyebut kesalahan audiens, sehingga pihak objek dakwah dengan rela hati dan atas kesadarannya dapat mengikuti ajaran yang disampaikan oleh pihak subjek dakwah. Jadi dakwah bukan propaganda.[10]

Ali Musthafa Ya’cup mengartikan mauizah al-hasanah dengan ucapan yang berisi nasihat-nasihat baik dan bermanfaat bagi orang-orang yang mendengarkannya, atau argument-argumen yang memuaskan sehingga pihak audiens dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh subjek dakwah.[11]

Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi sebagaimana yang dikutuip oleh hasanudin dalam buku Metode Dakwah mengemukakan bahwa al-mauizah al-hasanah adalah perkataan-perkataan yang tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka dengan al-Qur’an.[12]

    Abd. Hamid al-Bilali mengartikannya dengan suatu manhaj (metode) dalam dalam berdakwah untuk mengajak ke jalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik.[13]

      Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa mauizah al-hasanah adalah dakwah berupa ungkapan, perbuatan atau tindakan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita gembira, peringatan, pesan-pesan penting (wasiat) yang dapat dijadikan sebagai acuan dan panduan dalam berdakwah menuju tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Dapat pula dikatakan dengan ungkapan yang sarat dengan nilai-nilai edukatif yang menggugah hati dan membangkitkan kesadaran akan Tuhan (merasa bertuhan). Oleh karena itu sifat dari metode ini lebih persuasive, dinamis yang jauh dari sikap egois, agitasi emosional dan apologi. Mauizhah al-hasanah metode yang bervariatif praktis dan dinamis yang sangat cocok dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Mauizhah al-hasanah diartikan juga dengan bahasa-bahasa tabligh yang mengenakan pensengaran, diterima oleh hati dan menyentuh sanubari dan membangkitkan kesadaran dan disampaikan sesuai dengan bahasa qaum dengan lemah lembut dan penuh kesungguhan.

C. Bentuk-bentuk Turunannya

Metode pembelajaran atau mauizhah al-hasanah memiliki berbagai variasi seperti dijelaskan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang dijadikan sebagai bentuk turunan dari mauizhah itu sendiri. Muhammad Fuad al-Baqiq[14] memaparkan kata-kata mauizhah ditemukan sebanyak 9x dalam berbagai surat antara lain : Qs. Al-Baqarah ayat 66 dan 275, Ali Imran:138, al-Maidah: 46, al-A’raf:57, al-Nahal: 125, dan Al-Nur: 34.

Kemudian dalam bentuk asal waaza ditemukan sebanyak 10x terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 232, Ali Imran 138, Anisa’ 63 dan 66, as-Shura 136, Shaf 16 dan 53, al-Waqiah 47, al-Mujadalah 3, at-Thalaq 2. Dalam bentuk fi’il mudhari “yaizhu” ditemukan sebanyak 9x seperti dalam surat al-Baqarah ayat 231, an-Nisa 58, an-Nahal 90, al-Hajji 30 dan 32, an-Nur 17, Luqman 13 dan at-Talaq ayat 5. Kata-kata yaizhuhu diartikan sebagai kegiatan memberikan pembelajaran. Kegiatan yang bernuansa edukatif dalam al-Qur’an ditemukan berbagai variasi atas bentuk yang akan dinaha pada bahasa berikut ini.

D. Penerapan Metode Mauizah al-Hasanah

Prinsip penerapan metode dakwah dengan Mauizah al-Hasanah teraplikasi dalam bentuk ahsan qaul dan ahsan amal. Ahsan Qaul diartikan sebagai bentuk komunikasi verbal dengan menggunakan kata-kata atau pembicaraan yang bernilai edukasi dan bersifat penyadaran dam memberikan pembelajaran yang membekas dijiwa orang yang mendengar dan menerima isi pembicaraan tersebut. Sedangkan Ahsan Amal diartikan sebagai tindakan nyata yang dikenal dengan dakwah bilhal.

Perkataan (Qaulan) sebagai symbol komunikasi penyejuk hati dan penumbuhan kesadaran jiwa dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 11 variasi dalam berbagai ayat antara lain:

  1. Qaulan ma’rufan terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 235, An-Nisa’ ayat 5 dan 8 serta surat Al-ahzab ayat 32
  2.  Qaulan sadidan, terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 9 dan Al-Ahzab ayat 70
  3. Qaulan Balighan, terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 63
  4. Qaulan karimah, terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 23
  5. Qaulan maysuran, terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 28
  6. Qaulan Azhiman, terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 40
  7. Qaulan Layyinan, terdapat dalam surat Thaha ayat 44
  8. Qaulan min abbin rahim, terdapat dalam surat Yasin ayat 58
  9. Qaulan Tsaqilan, terdapat dalam surat al-Munzammil ayat 5
  10. Qaulan Ahsan (ahsan Qaula), terdapat dalam surat Lukman ayat 33
  11. Qaulan Salaman, terdapat dalam surat Alfurqan ayat 63

Semua bentuk perkataan tersebut terpakai dan digunakan dalam kegiatan dakwah termasuk dakwah dengan menerapkan prinsip metode mauziah al-hasanah. Adapu penerapan metode dapat dilihat dari turunan metode sebagai berikut:

  1. a.      Tabligh

Secara harfiyah kata-kata tabligh berasal dari kata-kata balagha yang berarti sampai. Kemudian dalam bentuk fiil muta’addi (transitif) menjadi ballaga yang berarti menyampaikan. Bentuk mashdar dari fi’il madhi ini menjadi tabligh. Dalam konteks Dakwah, tabligh diartikan menyampaikan atau menginformasikan ajaran ilahi (al-islam) kepada manusia agar diimani dan dapat dipahami serta dijadikan pedoman hidupnya.

Secara defenitif, tabligh dirumuskan para ahli antara lain sebagai i’lam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibrahim Imam dan Abdul Latif Hamzah. I’lam didefinisikan sebagai berikut:

  1. Membekali manusia dengan informasi dan data yang benar, dengan pengetahuan yang ilmiah, kenyataan yang actual dan akurat untuk membantu untuk terbentuknya pemikiran dan pandangan dalam menghadapi kenyataan dan kesulitan yang dihadapi.
  2. Menyampaikan ajaran dasar-dasar kaidah dan ketauhidan, ajaran dalam ubudiyah sesuai dengan petunjuk kitab Allah dan sunnah Rasul, serta akhlak dalam politik, social kemasyarakatan. Dan perekonomian dengan tujuan agar islam dijadikan pandangan hidupnya.
  3. Suatu ilmu yang membahas cara menyampaikan ajaran islam dengan berbagai cara dan metode ilmiah, melalui jalan Istinbath (dedukdi), idtibas (induksi), Istiqra’I (penelitian dan eksperimen)

Dengan demikian, tabligh merupakan suatu kegiatan dakwah yang dilakukan oleh seorang mubaligh, dewasa ini dikenal dengan proses komunikasi yang menyebabkan berbagai unsur dengan satu maksud dan tujuan.

Dalam Al-Qur’an. Kata-kata tabligh yang berarti sampai ditemukan sebanyak 4 x masing-masing terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 37, Al-hiji ayat 4, dan Gafir ayat 67 dan 80. Sedangkan mubaligh orang yang menyampaikan tabligh ditemukan dalam surat yasin ayat 17. Dalam redaksi yang memiliki kemiripan dengan itu dapat ditemukan dalam surat Ali Imran ayat 20, al-Maidah ayat 92 dan 99, sural al-Ra’d ayat 40, an-Nahl ayat 35 dan 82, surat an-Nur ayat 54, al-Ankabut : 89, Asy-Syura ayat 48.

 

 

  1. b.      Ta’lim

Ta’alim dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pendidikan atau pengajaran. Istilah yang berpadanan dengan ini dikenal dengan tarbiah. Dalam bahasa Indonesia, kedua istilah tersebut bias diartikan secara berpadanan, yaitu bermakna “pendidikan dan pengajaran”. Dalam proses empiriknya, kedua kegiatan itu tampaknya lebih mendahulukan proses pengajaran (Ta’lim) disini adalah mengajar atau memberi pelajaran berdasarkan pengetahuan dan pendidikan. Adapun pendidikan adalah mendidik manusia agar dengan pengetahuan dan penyelidikan itu, ia benar-benar menjadi sadar akan hakikat keberadaan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang pada akhirnya mampu memahami akidah dan syari’ah sebagai jalan kehidupannya.

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang semakna dengan pendidikan itu sendiri. Kata-kata yang sering ditemukan yang di artikan sebagai proses pendidikan atau pengajaran diantaranya kata-kata ‘allama-yuallimu, ya’lamu, ilman dan ta’lim. Hal ini ditegaskan oleh allah misalnya dalam surat Al-Baqarah 151, al-Rahman ayat 1-4, Ali Imran 48, an-Nisa’ ayat 133 dan sebagainya.

      Dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mengakomudir tentang pendidikan dan pengajaran maka tujuan pendidikan adalah mengajar dan mendidik manusia agar menjadi manusia yang menyadari kehadiran Tuhan dan mengenal nilai-nilai pesan ajaran ilahi berdasarkan ilmu pengetahuan dan penyelidikan yang mendalam melalui tadabbur dan tafakkur. Inilah penulis sebut dengan ulul albab.

 Dengan demikian dapat dipahami bahwa tarbiah dan ta’lim salah satu metode atau strategi dakwah yakni turunan mauizah al hasanah dalam upaya mendidik dan menambah wawasan (transfer of knowlage) dan internalisasi nilai menuju insan yang bertakwa dapat pula dikatakan sebagai insan ahsan taqwim. Oleh karena itu Syaikh Ali Mahfuzh mengatakan sebaik-baik dakwah adalah tarbiyah. Sekaligus menjawab keragu-raguan tentang poso tarbiyah dan dakwah. Dapat ditegaskan bahwa tarbiyah dan taklim turunan dari metode dakwah serta induk dari tarbiyah adalah dakwah.

  1. c.       Tadzkir dan Tanbih

Istilah Tadzkir dan Tanbih, dapat diartikan sebagai peringatan. Namun, ketika kedua istilah ini digunakan dalam konteks dakwah, maka pengertiannyapun mempunyai makna yang berbeda. Makna yang dikandungnya antara lain memberi nasihat, memberitahukan, membangkitkan dan perhatian kewaspadaan. Istilah Tadzkirah dalam terjemahan Depag diartikan “peringatan” yang diungkapkan dalam al-Qur’an sebanyak sembilan kali yaitu dalam surat Thaha ayat 3, al-Waqiyah ayat 73, al-Haqqah ayat 12 dan 48, al-Munzammil ayat 19, al-Muddatsir ayat 29, 49, 50 serta ‘Abasa ayat 11.

Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), (Qs. 20:2-3)

Sedang Tanbih secara khusus tidak terdapat dalam al-Qur’an, namun tetap dipergunakan dalam tema dakwa dengan tujuan untuk memperkuat dan mempertegas makna Tadzkirah dan Tanbih merupakan kalimat mutaradif (padan yang hamper mirip) yang diartikan sebagai “peringatan” dan penyadaran”.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa tadzkirah dan tanbih merupakan tindak lanjut dari tarbiyah dan ta’lim. Setelah mengajar dan mendidik yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan penyelidikan, agar peserta didik mampu dan mau serta sanggup menghayati dan mengamalkan ajaran dakwah, maka perlu dilakukan kegiatan dalam rangka mengingatkan dan menyadarkan agar mereka komitmen di jalan hadayah yang telah diberikan.

Dalam mengaplikasikan metode ini dilakukan dengan berkesinambungan (kontinuitas) dalam bahasa dakwahnya dikenal dengan istilah tikrar (pengulangan). Pengulangan kegiatan dakwah terutama dalam mengingatkan terdapat 18 x dalam Al-Qur’an yang ditemukan dalam surat Ali Imran ayat 20, al-Maidah: 92,99, al-Ra’d: 40, an-Nahal : 35 dan 82, an-Nur: 54, al-Ankabut: 18, Yasin: 17, As-Syuhra: 48, al-A’raf: 188, Hud: 2, Al-Baqarah: 199, Fatir:24, al-Isra’: 105, Furqan: 56, as-Sajadah: 45, dan Al-Fath: 8.

Adapun hikmah pengulangan dalam Al-Qur’an terutama mengingatkan atau menyadarkan sebagai salah satu bentuk strategi dakwah yang mengandung beberapa rahasia:

Pertama,meringankan beban psikologis bagi para juru dakwah, agar setelah berupaya melaksanakan tugas dakwah secara optimal tidak terlalu memikirkan tentang hasil dan penerimaan dakwahnya oleh almaduinya.

Kedua, agar para dai terhindar dari kepentingan dan kehendak serta ambisi pribadi atau fanatisme kelompok sehingga ia menjalankan tugas dengan tenang, lurus dan apa adanya dan penuh keikhlasan.

Ketiga,terhindar dari unsure pemaksaan kehendak, dan simad’u terhindar pula dari keterpaksaan serta kemunafikan.

Keempat, menunjukkan batasan yang tegas antara hak dan kewajiban serta wewenang manusia sebagai hamba dengan hak dan kewajiban serta wewenang ilahi sebagai khalik, pemilik hakiki dan pengatur alam jagat raya ini.

  1. d.      Taujih wal irsyad (Bimbingan dan Konseling)

Dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kata-kata konseling. Namun kata yang semakna disebutkan oleh mussafir ketika menjelaskan makna mauizhah al-hasanah dalam surat an-Nahl ayat 125 dengan ungkapan al-tujih wa al irsyad. Dalam Al-Qur’an lebih kurang Sembilan belas kali ayat yang menyebutkan istilah irsyad dalam beragam susunan kata dalam berbagai surat. Berikut ini tabel ayat yang dimaksud:

Dari ayat-ayat diatas yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah Bimbingan dan Konseling. Istilah bimbingan sebagaimana yang dikemukakan oleh thohari Musnamar dalam komaruddin, mengartikan sebagai “proses pemberiaan bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan Allah sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan konseling diartikan sebagai “Proses pemberian bantuan terhadap individu agar dirinya menyadari kembali kepada eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup salaras dengan ketentuan dan petunjuk llah, sehingga ia dapat mencapai kebahagian hidup didunia dan akhirat.

Dengan demikian konseling lebih memfokuskan kajian pada penyelesaian kasus dan pemecahannya agar setiap pribadi atau individu bias menyelesaikan masalahnya melalui suatu proses atau tahapan-tahapan dan mengikuti aturan dan prinsip-prinsip tertentu.

  1. e.       Nasehat/tanshih

Nasihat ditemukan dalam Al-Qur’an sebanyak 3 kali dalam bentuk yaitu dalam surat al-‘Araf ayat 21, 79, dan al-Qashas 20.

Dari segi pengertian nasihat diartikan dengan khalasha yang punya makna murni dan bersih, juga berarti “khata” yaitu menjahit. Dalam kamus bahasa Indonesia nasihat diartikan dengan memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Nasihat sifatnya anjuran yang bernilai motivasi yang didalamnya memuat muatan misi mengingatkan akan adanya konsekwensi logis dan saksi atas segala bentuk perbuatan. Pelaksanaan nasihat lebih santun dan manusiawi karena dalam penerapannya lebih menekankan kepada aspek bahasa kalbu yang jauh dari intimidasi dan pemaksaan kehendak.

Dalam perspektif al-Qur’an juga diartikan sebagai washiyah. Dalam al-Qur’an kata-kata nasihat ditemukan sebanyak 13 kali dalam delapan bentuk didua belas ayat. Seperti dinukilkan dalam surat Al-‘Araf ayat 21, 66, 68, 79, 93, surat at-Taubah ayat: 91, Hud ayat 34, Yusuf ayat 11 dan Al-Qasas ayat12 dan 20 serta surat at-Tahrim ayat 8.

Dengan demikian nasihat salah satu cara dakwahnya para nabi sebelum nabi Muhammad Saw dan mengingatkan dan menyadarkan umat dan kaumnya. Nabi Muhammad Saw juga menjadikan sebagai salah satu bentuk strategi penyampaian yang memiliki banyak pelajaran didalamnya.

Dalam Konteks hadis, Nasihat itu juga terpakai dalam dakwahnya Nabi seperti yang dikemukakan dalam hadis Rasulullah Saw dari abu Hurairah yang diriwayatkan oleh bukhari:

Dari hadis tersebut dapat dikemukakan bahwa salah satu nasihat Nabi kepada umatnya adalah agar mampu mengendalikan gejolak emosional, “Nabi memesankan jangan marah”. Ini sebuah siyalemen bahwa begitu pentingnya arti dari sebuah pengendalian emosional.

  1. f.        Tabsyir, Tanzir

Tabsyir dan tanzir merupakan pendekatan dakwah yang dikenalkan oleh Allah dalam Al-qur’an. Tabsyir diartikan dengan menggembirakan sedangkan Tanzir berarti member kabar pertakut atau peringatan. Para mufassir mengartikan dan memberikan pemahaman tentang model penerapan tabsyir dan tanzir dalam berdakwah. Tabsyir dilakukan dengan ilustrasi pahala, penghargaan (apresiasi) atau dengan janji mendapatkan kehidupan syurga bagi seseorang yang menerima positif atau beriman dan menjadikan amal saleh. Adapun pendekatan tanzir dilakukan dengan ilustrasi sanksi, akibat buruk atau mendapat ancaman suatu kehidupan pahit, gersang dan sangat menyedihkan, yaitu suatu kehidupan an-nar.

Dalam Al-qur’an cukup banyak muatan ayat yang berisi motivasi, anjuran, janji-janji berupa pahala sekaligus mengingatkan akan sanksi yang dibuat oleh seseorang yang akan diterimanya kelak atau menjadi konsekwensi logis dari aktifitas yang dilakukannya. Contoh: Firma Allah yang mengandung lafadz dan makna tabsyir dan tanzir sebagai berikut:

Dengan demikian tabsyir dipergunakan untuk memotivasi dan membangkitkan semangat dan janji-janji atas perbuatan baik yang dilakukan sedabgkan tanzir dipergunakan untuk mengingatkan dengan ancaman Allah kepada orang-orang yang melanggar ketentuan Allah dan Rasul-nya berupa kehidupan yang sempit atau siksaan yang akan menanti dibalik kejahatan yang mereka lakukan.

 

  1. g.      Tamsi / amsal

Tamsil atau perumpamaan atau alias analogi merupakan salah satu teknik dakwah muizhah al-jasanah yang bertujuan untuk meyakinkan para audiens. Kata-kata tamsil dalam al-Qur’an dapat dilacak dari bentuk kata dasarnya yang berarti perumpamaan.  

Amsal dalam al-Qur’an ditemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 17, 23, 26, 106, 113, 118, 137, 171, 194, 214, 228, 233, 261, 264, 265, 275 (18x). Ali Imran ayat 117, 140 dan 165 (3x). An-nisa’ ayat 140, (1x), Al-maidah ayat 95 (1x), al-An’am ayat 93, 122, 124, 160 (4x), al-A’raf ayat 169, 176, 177 (3x), al-Anfal ayat 31 (1x), Yunus ayat 24, 27, 38, 102 (4x), hud ayat 13, 24, 27, 99 (4x), ar-Ra’d ayat 6, 17, 18, 35 (4x), ibrahi ayat 10, 18, 24, 26 (4x), an-Nahl ayat 60, 75, 76, 112, 126 (5x), al-Isra’ ayat 88, 89, 99 (3x), al-Kahfi ayat 32, 45, 54, 109, 110 (5x), Maryam ayat 17 (1x), Thaha ayat 58, 63, 104 (3x), al-Anbiya’ ayat 3,84 (2x), al-Hajji ayat 60, 73 (2x), al-Mukminuun ayat 24, 33, 81 (3x), an-Nur ayat 17, 34, 35, (3x), al-Furqan ayat 33 (1x), as-Shuara ayat 154, 186 (2x), al-Qasas ayat 48 (1x), ar-Room ayat 27, 28, 58 (3x), Fatir 14 (1x), Yasin ayat 13, 15, 42, 78 (4x), Fushilat ayat 6 (1x), az-Zukruf ayat 8, 17, 56, 57, 59 (5x), al-Ahqaf ayat 10 (1x), Muhammad ayat 15 (1x), al-Fath ayat 29 (1x), at-Tur ayat 34 (1x), al-hadid ayat 20 (1x), al-Hasyar ayat 15, 16 (2x), al-Jum’ah ayat 5 (1x), at-Talaq ayat 12 (1x), at-Tahrim ayat 10 (1x), al-Mudatsir ayat 31 (1x).

Jadi ditemukan kata amsal dalam berbagai bentuk dalam al-Qur’an sebanyak 118x dalam 41 surat. Perumpaman itu diberikan oleh allah adalah sebagai bahan renungan dan pelajaran untuk meyakinkan akan akibat dari suatu kebaikan dan kejahatan yang terjadi dalam kehidupan umat manusia.

  1. h.      Isyfa’ / Ilaj / Tadawwa’   

Isyfa’ atau Istisyfa’ diartikan sebagai usaha minta kesembuhan atau atau memohon untuk sebuah kesembuhan dengan cara menjadi al-Qur’an sebagai do’a. Salah satu fungsi dari al-Qur’an adalah syifa’. Hal ini diungkapkan oleh Allah dalam surat al-Isra’ ayat 82.

Kegiatan dakwah melalui upaya pengobatan dan perawatan ternyata cukup ampuh dalam dakwah penyadaran dan penyabaran. Kenyataan orang yang sakit jika diamati tingkah lakunya ternyata mereka sedang mengalami kehilangan dayarasionalitasnya. Buktinya adalah orang yang sedang sakit akan melakukan apa saja asalkan mereka sembuh. Biasanya orang yang sakit sangat membutuhkan dakwah motivatif dakwah terapeutik.

  1. i.        Tazkiyah, Tilawah, Ta’limah

Tazkiyah diartikan dengan kegiatan dalam mensucikan jiwa. Kata pensucian dalam al-Qur’an dikenal dengan kata-kata zakah. Dalam al-Qur’an ditemukan sekurang-kurangnya 35x zakah dicantumkan dalam beberapa surat dan ayat. Tazkiyah sendiri ditemukan dalam surat al-Baqarah ayat 151.

Dengan demikian Tazkiyah, Tilawah dan Taklimah merupakan turunan dari mauizhah al-Hasanah. Teknik merupakan teknik khusus yang dipergunakan oleh kalangan sufi dalam upaya mensucikan batinnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Begitu juga dengan mewiridkan dan membiasakan tilawah al-Qur’an dan mentalaahnya sesuai dengan ilmu yang dibutuhkanya.

  1. j.        Taqish (kisah)

Kisah secara etimologi merupakan bentuk jama’ dari kata Qishah. Lafazh ini merupakan bentuk mashdar dari kata qassa-yaqussu. Lafazh Qashas memiliki beragam makna seperti menceritakan, menelusuri atau mengikuti jejak.

Secara terminologis kisah dalam al-Qur’an berarti berita-berita al-Qur’an tentang umat terdahulu. Juga diartikan sebagai kisah-kisah yang menceritakan ihwal umat-umat terdahulu dan nabi-nabi mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau, masa kini dan masa akan dating.

Dengan demikian kisah adalah salah satu teknik menyampai dan menyajikan materi tabligh atau ajaran dakwa melalui proses bertutur kata atau bercerita tentang masa lalu, sekarang dan yang akan datang yang sarat dengan nilai-nilai edukasi atau mengandung ibrah yang bias dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Kisah dalam al-Qur’an ditemukan sebanyak 20x seperti ditemukan dalam surat Ali Imran ayat 62, an-Nisa’ ayat 164, al-A’raf ayat 176, Yusuf ayat 3 dan 5, 111, an-Nahl ayat 118, al-Kahfi ayat 64, al-Qashas ayat 25, ghafir ayat 78.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      

 


[1] Fuad Hasan dan Koentjaranigrat, beberapa Azas Metodologi Ilmiyah, di dalam Koetjaranigrt (Ed), Metodologi PenelitianMasyarakat, (Jakarta : Gramedia, 1997, h.16.

[2] M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta :Bumi Aksara, 1991),h.61

[3] Wiliam Collins, Webster’s New Twentieth Dictionary, (Amerika Serikat: Noah Webster,1980) ed ke-2, h.1134 dan temukan juga dalam Salmadanis, Filsafat Dakwah, (Jakarta : Surau, 2003), h.117

[4]  Munzier Saputra dan Harjani Hefni (Ed), Metode Dakwa, (Jakarta : Rahmad Semesta, 2006) Cet. Ke-2, h.6

[5] Hasanudin, Hukum Dakwah, (Jakarta : pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet.ke-9,h.35

[6] Poerwadarminta, kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1986), Cet.ke-9,h.649

[7] Moh. Ali Azis, Ilmu Dakwah,(edisi Revisi),(Jakarta: Kencana Pernanda Media Group, 2009),h.345-346

 

[9] Asep Muhidin, Dakwah dalam Perspektif al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2002),h.165-166

[10] Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah,(Jakarta: Amzah, 2009),h.100

[11] Ibid

[12] Munzier Saputra dan Harjani Hefni (ed), Metode Dakwah,(Jakarta: Rahmat Semesta,2006) edisi Revisi,h.15

[13] Baca selengkapnya Abd. Hamid al-da wah fi ingkar al-muankar,(Kuwat: Dar al-Dakwa,1989),h.260 atau baca Munzier Saputra dan Harjani Hefni (ed), Metode Dakwah, (Jakarta: Rahmad Semesta,2006), edesi Revisi,h.16

[14] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’ al-Mu’jam al-Mufahras li al-Qur’an al-Karim, (Qahirah: Dar al-Hadis,1998),h.153-154

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s